TUGAS : Ilmi Fanatik
Biografi - Al-Bushiri – Sastrawan Penulis Qasidah Burdah
Nama lengkapnya adalah Syarafuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Sa‘id Al-Bushiri, atau lebih dikenal sebagai Al-Bushiri. Ia lahir pada tahun 608 H / 1212 M di daerah Dalasah, Mesir, dan wafat sekitar tahun 696 H / 1297 M.
Al-Bushiri dikenal sebagai seorang penyair sufi, sastrawan besar, serta pecinta Nabi Muhammad. Julukan “Al-Bushiri” diambil dari nama daerah asal keluarganya, yaitu Bushir, sebuah wilayah di Mesir Hulu.
Ia hidup pada masa akhir Dinasti Ayyubiyah hingga awal pemerintahan Dinasti Mamluk, yaitu masa ketika semangat keagamaan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW berkembang pesat di tengah masyarakat Muslim.
Sejak kecil, Al-Bushiri telah dikenal cerdas dan gemar mempelajari bahasa Arab, sastra, serta Al-Qur’an. Ia menimba ilmu kepada para ulama besar di Mesir dan memiliki hubungan erat dengan kalangan sufi, terutama dengan Abu al-Hasan asy-Syadzili, pendiri Tarekat Syadziliyah.
Selain sebagai sastrawan, Al-Bushiri juga pernah bekerja sebagai penulis dan juru administrasi di pemerintahan. Namun, minat utamanya tetap pada dunia sastra dan tasawuf. Puisi-puisi karyanya sarat dengan nilai keimanan, cinta kepada Rasulullah SAW, serta ajakan untuk memperbaiki akhlak.
Karya Terkenal: Qasidah Burdah
Karya yang membuat nama Al-Bushiri terkenal sepanjang masa adalah Qasidah al-Burdah (Puisi Jubah). Qasidah ini berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW, ungkapan cinta yang mendalam, serta nasihat spiritual bagi umat Islam.
Menurut riwayat, Al-Bushiri pernah mengalami sakit lumpuh. Dalam keadaan tersebut, ia menggubah Qasidah Burdah dengan penuh keikhlasan. Setelah itu, ia bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW yang menyelimutinya dengan jubah (burdah). Ketika terbangun, ia pun sembuh dari penyakitnya. Peristiwa inilah yang membuat qasidah tersebut dinamakan “Burdah” (jubah).
Pengaruh dan Warisan
Qasidah Burdah menjadi salah satu karya sastra Islam paling terkenal di dunia. Hingga kini, puisi ini sering dibacakan dalam berbagai acara keagamaan seperti maulid Nabi, pengajian, dan majelis zikir di berbagai negara Muslim.
Al-Bushiri dikenang sebagai sastrawan besar yang berhasil menggabungkan keindahan bahasa dengan kedalaman spiritual. Karyanya tidak hanya bernilai sastra tinggi, tetapi juga menjadi sarana dakwah dan penguatan cinta kepada Rasulullah SAW.
SYAIR QASIDAH BURDAH
ثُمَّ الصَّلَاةُ عَلَى الْمُخْتَارِ فِي الْقِدَمِ ❁
tsummash-shalâtu ‘alal-mukhtâri fil-qidami.
kemudian sholawat tercurah kepada Nabi pilihan sejak zaman azali.
Refrain
عَلَى حَبِيبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ ❁
‘alâ habîbika khairil-khalqi kullihimi.
kepada kekasih-Mu, sebaik-baik seluruh makhluk.
Bab Pertama
Tentang Cinta dan Keluhan Kerinduan
مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ ❁
mazajta dam‘an jarâ min muqlatin bi dami.
engkau mencampurkan air mata yang mengalir dari matamu dengan darah?
وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِي الظَّلْمَاءِ مِنْ إِضَمِ ❁
wa aumadhal-barqu fizh-zhalmâ’i min Idhami.
dan kilat menyambar dalam kegelapan malam dari arah Idham?
وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِمِ ❁
wa mâ li qalbika in qulta istafiq yahimi.
dan mengapa hatimu, ketika engkau berkata, “Tenanglah,” justru semakin gelisah?
مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمُضْطَرِمِ ❁
mâ baina munsajimin minhu wa mudhtharimi.
di antara air mata yang mengalir dan hati yang membara?
وَلَا أَرِقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلَمِ ❁
wa lâ ariqta li dzikril-bâni wal-‘alami.
dan kenangan akan pohon ban dan Gunung Alam tidak akan membuatmu terjaga.
بِهِ عَلَيْكَ عُدُولُ الدَّمْعِ وَالسَّقَمِ ❁
bihi ‘alaika ‘udûlud-dam‘i was-saqami.
air matamu dan sakitmu, telah bersaksi atasnya?
مِثْلَ الْبَهَارِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَمِ ❁
mitslal-bahâri ‘alâ khaddaika wal-‘anami.
laksana bunga kuning dan buah ‘anam yang merah.
وَالْحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتِ بِالْأَلَمِ ❁
wal-hubbu ya‘taridhul-ladzdzâti bil-alami.
karena cinta mencampurkan setiap kenikmatan dengan rasa sakit.
مِنِّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ ❁
minnî ilaika walau anshafta lam talumi.
jika engkau bersikap adil, tentu engkau tidak akan mencelaku.
عَنِ الْوُشَاةِ وَلَا دَائِي بِمُنْحَسِمِ ❁
‘anil-wusyâti wa lâ dâ’î bi munhasimi.
dan penyakitku pun tidak kunjung sembuh.
إِنَّ الْمُحِبَّ عَنِ الْعُذَّالِ فِي صَمَمِ ❁
innal-muhibba ‘anil-‘udzdzâli fî shamami.
karena seorang pecinta tuli terhadap celaan orang yang mencelanya.
وَالشَّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحٍ عَنِ التُّهَمِ ❁
wasy-syaibu ab‘adu fî nushhin ‘anit-tuhami.
padahal nasihat uban paling jauh dari segala kecurigaan.
Bab Kedua
Tentang Peringatan terhadap Hawa Nafsu
مِنْ جَهْلِهَا بِنَذِيرِ الشَّيْبِ وَالْهَرَمِ ❁
min jahlihâ bi nadzîrisy-syaibi wal-harami.
karena kebodohannya, dari peringatan uban dan usia tua.
ضَيْفٍ أَلَمَّ بِرَأْسِي غَيْرَ مُحْتَشِمِ ❁
dhaifin alamma bi ra’sî ghaira muhtasyimi.
bagi tamu yang tiba-tiba datang di kepalaku tanpa merasa sungkan.
كَتَمْتُ سِرًّا بَدَا لِي مِنْهُ بِالْكَتَمِ ❁
katamtu sirran badâ lî minhu bil-katami.
tentu kusembunyikan rahasia yang tampak itu dengan pewarna rambut.
كَمَا يُرَدُّ جِمَاحُ الْخَيْلِ بِاللُّجُمِ ❁
kamâ yuraddu jimâhul-khaili bil-lujumi.
sebagaimana kuda liar dikendalikan dengan tali kekang?
إِنَّ الطَّعَامَ يُقَوِّي شَهْوَةَ النَّهِمِ ❁
innath-tha‘âma yuqawwî syahwatan-nahimi.
karena makanan justru menambah nafsu makan orang yang rakus.
حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ ❁
hubbir-radhâ‘i wa in tafthimhu yanfathimi.
dalam keadaan tetap menyukai susu, tetapi jika engkau menyapihnya, ia akan berhenti.
إِنَّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصْمِ أَوْ يَصِمِ ❁
innal-hawâ mâ tawallâ yushmi au yashimi.
karena jika hawa nafsu berkuasa, ia akan membinasakan atau mencemarkan.
وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلَا تُسِمِ ❁
wa in hiyastahlatil-mar‘â falâ tusimi.
dan jika ia menyukai suatu tempat penggembalaan, jangan biarkan ia bebas merumput.
مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنَّ السُّمَّ فِي الدَّسَمِ ❁
min haitsu lam yadri annas-summa fid-dasami.
sementara ia tidak menyadari bahwa racun tersembunyi di dalam makanan yang lezat.
فَرُبَّ مَخْمَصَةٍ شَرٌّ مِنَ التُّخَمِ ❁
farubba makhmashatin syarrun minat-tukhami.
karena terkadang kelaparan lebih buruk daripada kekenyangan.
مِنَ الْمَحَارِمِ وَالْزَمْ حِمْيَةَ النَّدَمِ ❁
minal-mahârimi walzam himyatan-nadami.
dan berpeganglah pada penyesalan serta penjagaan diri.
وَإِنْ هُمَا مَحَضَاكَ النُّصْحَ فَاتَّهِمِ ❁
wa in humâ mahadhâkan-nushha fattahimi.
dan jika keduanya memberimu nasihat yang tulus sekalipun, tetaplah curiga terhadapnya.
فَأَنْتَ تَعْرِفُ كَيْدَ الْخَصْمِ وَالْحَكَمِ ❁
fa anta ta‘rifu kaidal-khashmi wal-hakami.
karena engkau mengetahui tipu daya lawan dan hakim.
لَقَدْ نَسَبْتُ بِهِ نَسْلًا لِذِي عُقُمِ ❁
laqad nasabtu bihi naslan li dzî ‘uqumi.
karena dengan itu aku seakan menisbatkan keturunan kepada orang yang mandul.
وَمَا اسْتَقَمْتُ فَمَا قَوْلِي لَكَ اسْتَقِمِ ❁
wamastaqamtu famâ qaulî lakastaqimi.
aku pun belum istiqamah, lalu bagaimana mungkin aku berkata kepadamu, “Istiqamahlah”?
وَلَمْ أُصَلِّ سِوَى فَرْضٍ وَلَمْ أَصُمِ ❁
wa lam ushalli siwâ fardhin wa lam ashumi.
dan tidak mengerjakan sholat maupun puasa selain yang wajib.
Bab Ketiga
Tentang Pujian kepada Nabi ﷺ
أَنِ اشْتَكَتْ قَدَمَاهُ الضُّرَّ مِنْ وَرَمِ ❁
anisytakat qadamâhu adh-dhurra min warami.
hingga kedua kaki beliau mengeluhkan sakit karena bengkak.
تَحْتَ الْحِجَارَةِ كَشْحًا مُتْرَفَ الْأَدَمِ ❁
tahtal-hijârati kasyhan mutrafal-adami.
dan mengganjal batu pada pinggangnya yang lembut.
عَنْ نَفْسِهِ فَأَرَاهَا أَيَّمَا شَمَمِ ❁
‘an nafsihi fa arâhâ aiyamâ syamami.
namun beliau memperlihatkan kepada mereka betapa luhur kezuhudannya.
إِنَّ الضَّرُورَةَ لَا تَعْدُو عَلَى الْعِصَمِ ❁
innadh-dharûrata lâ ta‘dû ‘alal-‘ishami.
karena kebutuhan tidak mampu menguasai orang-orang yang terjaga dari dosa.
لَوْلَاهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ ❁
laulâhu lam tukhrajid-dunyâ minal-‘adami.
sedangkan tanpa beliau dunia tidak akan dikeluarkan dari ketiadaan?
ـنِ وَالْفَرِيقَيْنِ مِنْ عُرْبٍ وَمِنْ عَجَمِ ❁
-ni wal-farîqaini min ‘urbin wa min ‘ajami.
serta pemimpin bangsa Arab dan non-Arab.
أَبَرَّ فِي قَوْلِ لَا مِنْهُ وَلَا نَعَمِ ❁
abarra fî qauli lâ minhu wa lâ na‘ami.
lebih benar daripada beliau ketika berkata “tidak” maupun “ya”.
لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ الْأَهْوَالِ مُقْتَحَمِ ❁
likulli haulin minal-ahwâli muqtahami.
dalam menghadapi setiap kedahsyatan yang menerjang.
مُسْتَمْسِكُونَ بِحَبْلٍ غَيْرِ مُنْفَصِمِ ❁
mustamsikûna bi hablin ghairi munfashimi.
berpegang pada tali yang tidak akan pernah terputus.
وَلَمْ يُدَانُوهُ فِي عِلْمٍ وَلَا كَرَمِ ❁
wa lam yudânûhu fî ‘ilmin wa lâ karami.
dan mereka tidak mendekati beliau dalam ilmu maupun kemurahan hati.
غَرْفًا مِنَ الْبَحْرِ أَوْ رَشْفًا مِنَ الدِّيَمِ ❁
gharfan minal-bahri au rasyfan minad-diyami.
segenggam dari lautan atau seteguk dari hujan yang terus tercurah.
مِنْ نُقْطَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ شَكْلَةِ الْحِكَمِ ❁
min nuqthatil-‘ilmi au min syaklatil-hikami.
pada satu titik ilmu atau satu tanda hikmah.
ثُمَّ اصْطَفَاهُ حَبِيبًا بَارِئُ النَّسَمِ ❁
tsummashthafâhu habîban bâri’un-nasami.
kemudian Sang Pencipta jiwa memilih beliau sebagai kekasih-Nya.
فَجَوْهَرُ الْحُسْنِ فِيهِ غَيْرُ مُنْقَسِمِ ❁
fajauharul-husni fîhi ghairu munqasimi.
karena hakikat keindahan dalam dirinya tidak terbagi.
وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحًا فِيهِ وَاحْتَكِمِ ❁
wahkum bimâ syi’ta madhan fîhi wahtakimi.
dan setelah itu pujilah beliau sesukamu dan tetapkanlah kebesaran yang engkau kehendaki.
وَانْسُبْ إِلَى قَدْرِهِ مَا شِئْتَ مِنْ عِظَمِ ❁
wansub ilâ qadrihi mâ syi’ta min ‘izhami.
dan kepada kedudukan beliau segala keagungan yang engkau kehendaki.
حَدٌّ فَيُعْرِبَ عَنْهُ نَاطِقٌ بِفَمِ ❁
haddun fayu‘riba ‘anhu nâthiqun bi fami.
yang dapat diungkapkan oleh seseorang dengan lisannya.
أَحْيَا اسْمُهُ حِينَ يُدْعَى دَارِسَ الرِّمَمِ ❁
ahyasmuhu hîna yud‘â dârisar-rimami.
niscaya namanya dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur ketika disebut.
حِرْصًا عَلَيْنَا فَلَمْ نَرْتَبْ وَلَمْ نَهِمِ ❁
hirshan ‘alainâ falam nartab wa lam nahimi.
karena kasih sayangnya kepada kita, sehingga kita tidak ragu dan tidak pula kebingungan.
فِي الْقُرْبِ وَالْبُعْدِ فِيهِ غَيْرُ مُنْفَحِمِ ❁
fil-qurbi wal-bu‘di fîhi ghairu munfahimi.
maka baik yang dekat maupun yang jauh tidak mampu memahaminya.
صَغِيرَةً وَتُكِلُّ الطَّرْفَ مِنْ أَمَمِ ❁
shaghîratan wa tukilluth-tharfa min amami.
namun dari dekat membuat pandangan tak mampu menatapnya.
قَوْمٌ نِيَامٌ تَسَلَّوْا عَنْهُ بِالْحُلُمِ ❁
qaumun niyâmun tasallau ‘anhu bil-hulumi.
sedangkan mereka tertidur dan merasa cukup dengan mimpi?
وَأَنَّهُ خَيْرُ خَلْقِ اللَّهِ كُلِّهِمِ ❁
wa annahu khairu khalqillâhi kullihimi.
namun beliau adalah sebaik-baik seluruh makhluk Allah.
فَإِنَّمَا اتَّصَلَتْ مِنْ نُورِهِ بِهِمِ ❁
fa innamattashalat min nûrihi bihimi.
sesungguhnya sampai kepada mereka dari cahaya beliau.
يُظْهِرْنَ أَنْوَارَهَا لِلنَّاسِ فِي الظُّلَمِ ❁
yuzhhirna anwârahâ lin-nâsi fizh-zhulami.
yang memancarkan cahayanya kepada manusia di tengah kegelapan.
بِالْحُسْنِ مُشْتَمِلٍ بِالْبِشْرِ مُتَّسِمِ ❁
bil-husni musytamilin bil-bisyri muttasimi.
diselimuti keindahan dan dihiasi senyum yang bercahaya.
وَالْبَحْرِ فِي كَرَمٍ وَالدَّهْرِ فِي هِمَمِ ❁
wal-bahri fî karamin wad-dahri fî himami.
lautan dalam kemurahan hati, dan zaman dalam keluhuran cita-cita.
فِي عَسْكَرٍ حِينَ تَلْقَاهُ وَفِي حَشَمِ ❁
fî ‘askarin hîna talqâhu wa fî hasyami.
seakan berada di tengah pasukan dan para pengiring.
مِنْ مَعْدِنَيْ مَنْطِقٍ مِنْهُ وَمُبْتَسَمِ ❁
min ma‘dinai manthiqin minhu wa mubtasami.
keluar dari dua sumber, yaitu tutur kata dan senyum beliau.
طُوبَى لِمُنْتَشِقٍ مِنْهُ وَمُلْتَثِمِ ❁
thûbâ li muntasyiqin minhu wa multatsimi.
beruntunglah orang yang mencium dan mengecupnya.
Bab Keempat
Tentang Kelahiran Nabi ﷺ
يَا طِيبَ مُبْتَدَإٍ مِنْهُ وَمُخْتَتَمِ ❁
yâ thîba mubtada’in minhu wa mukhtatami.
betapa mulia permulaan dan akhirnya.
قَدْ أُنْذِرُوا بِحُلُولِ الْبُؤْسِ وَالنِّقَمِ ❁
qad undzirû bi hulûlil-bu’si wan-niqami.
telah diperingatkan akan datangnya kesengsaraan dan bencana.
كَشَمْلِ أَصْحَابِ كِسْرَى غَيْرَ مُلْتَئِمِ ❁
kasyamli ash-hâbi Kisrâ ghaira multa’imi.
seakan persatuan para pengikut Kisra pun akan tercerai-berai.
عَلَيْهِ وَالنَّهْرُ سَاهِي الْعَيْنِ مِنْ سَدَمِ ❁
‘alaihi wan-nahru sâhil-‘aini min sadami.
dan sungai pun seakan kehilangan airnya karena duka.
وَرُدَّ وَارِدُهَا بِالْغَيْظِ حِينَ ظَمِي ❁
wa rudda wâriduhâ bil-ghaizhi hîna zhamî.
dan orang yang datang mencari air kembali dengan marah dalam keadaan haus.
حُزْنًا وَبِالْمَاءِ مَا بِالنَّارِ مِنْ ضَرَمِ ❁
huznan wa bil-mâ’i mâ bin-nâri min dharami.
dan air memperoleh panasnya api.
وَالْحَقُّ يَظْهَرُ مِنْ مَعْنًى وَمِنْ كَلِمِ ❁
wal-haqqu yazhharu min ma‘nan wa min kalimi.
dan kebenaran tampak dalam makna maupun kata-kata.
تُسْمَعْ وَبَارِقَةُ الْإِنْذَارِ لَمْ تُشَمِ ❁
tusma‘ wa bâriqatul-indzâri lam tusyami.
tidak mereka dengar dan kilatan peringatan pun tidak mereka perhatikan.
بِأَنَّ دِينَهُمُ الْمُعْوَجَّ لَمْ يَقُمِ ❁
bi anna dînahumul-mu‘wajja lam yaqumi.
bahwa agama mereka yang bengkok tidak akan lagi tegak.
مُنْقَضَّةٍ وَفْقَ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ صَنَمِ ❁
munqadhdhatin wafqa mâ fil-ardhi min shanami.
bersamaan dengan berjatuhannya berhala-berhala di bumi.
مِنَ الشَّيَاطِينِ يَقْفُو إِثْرَ مُنْهَزِمِ ❁
minasy-syayâthîni yaqfû itsra munhazimi.
satu demi satu mengikuti yang lain dalam pelarian.
أَوْ عَسْكَرٌ بِالْحَصَى مِنْ رَاحَتَيْهِ رُمِي ❁
au ‘askarun bil-hashâ min râhataihi rumî.
atau pasukan yang dilempari kerikil dari kedua telapak tangan beliau.
نَبْذَ الْمُسَبِّحِ مِنْ أَحْشَاءِ مُلْتَقِمِ ❁
nabdzal-musabbihi min ahsyâ’i multaqimi.
seperti Yunus yang bertasbih lalu dilemparkan keluar dari perut ikan.
Bab Kelima
Tentang Mukjizat-Mukjizat Nabi ﷺ
تَمْشِي إِلَيْهِ عَلَى سَاقٍ بِلَا قَدَمِ ❁
tamsyî ilaihi ‘alâ sâqin bilâ qadami.
berjalan menuju beliau dengan batangnya tanpa kaki.
فُرُوعُهَا مِنْ بَدِيعِ الْخَطِّ بِاللَّقَمِ ❁
furû‘uhâ min badî‘il-khaththi bil-laqami.
dengan tulisan indah di sepanjang jalan yang dilaluinya.
تَقِيهِ حَرَّ وَطِيسٍ لِلْهَجِيرِ حَمِي ❁
taqîhi harra wathîsin lil-hajîri hamî.
melindungi beliau dari teriknya panas tengah hari.
مِنْ قَلْبِهِ نِسْبَةً مَبْرُورَةَ الْقَسَمِ ❁
min qalbihi nisbatam mabrûratal-qasami.
hubungan dengan hati beliau yang membenarkan sumpahku.
وَكُلُّ طَرْفٍ مِنَ الْكُفَّارِ عَنْهُ عَمِي ❁
wa kullu tharfin minal-kuffâri ‘anhu ‘amî.
sementara setiap pandangan orang kafir dibutakan darinya.
وَهُمْ يَقُولُونَ مَا بِالْغَارِ مِنْ أَرِمِ ❁
wa hum yaqûlûna mâ bil-ghâri min arimi.
sementara mereka berkata, “Tidak ada seorang pun di dalam gua.”
خَيْرِ الْبَرِيَّةِ لَمْ تَنْسُجْ وَلَمْ تَحُمِ ❁
khairil-bariyyati lam tansuj wa lam tahumi.
laba-laba tak mungkin menenun jaring dan merpati tak mungkin bersarang.
مِنَ الدُّرُوعِ وَعَنْ عَالٍ مِنَ الْأُطُمِ ❁
minad-durû‘i wa ‘an ‘âlin minal-uthumi.
baju-baju zirah berlapis maupun benteng-benteng tinggi.
إِلَّا وَنِلْتُ جِوَارًا مِنْهُ لَمْ يُضَمِ ❁
illâ wa niltu jiwâran minhu lam yudhami.
melainkan aku memperoleh perlindungan yang tidak dapat dizalimi.
إِلَّا اسْتَلَمْتُ النَّدَى مِنْ خَيْرِ مُسْتَلَمِ ❁
illastalamtun-nadâ min khairi mustalami.
melainkan aku memperoleh pemberian dari sebaik-baik pemberi.
قَلْبًا إِذَا نَامَتِ الْعَيْنَانِ لَمْ يَنَمِ ❁
qalban idzâ nâmatil-‘ainâni lam yanami.
yang tidak pernah tidur meskipun kedua matanya terpejam.
فَلَيْسَ يُنْكَرُ فِيهِ حَالُ مُحْتَلِمِ ❁
falaisa yunkaru fîhi hâlu muhtalimi.
maka wahyu yang beliau terima dalam mimpi tidak patut diingkari.
وَلَا نَبِيٌّ عَلَى غَيْبٍ بِمُتَّهَمِ ❁
wa lâ nabiyyun ‘alâ ghaibin bi muttahami.
dan seorang nabi tidak dapat dituduh mengenai perkara gaib.
وَأَطْلَقَتْ أَرِبًا مِنْ رِبْقَةِ اللَّمَمِ ❁
wa athlaqat ariban min ribqatil-lamami.
dan betapa banyak orang yang beliau bebaskan dari belenggu kegilaan.
حَتَّى حَكَتْ غُرَّةً فِي الْأَعْصُرِ الدُّهُمِ ❁
hattâ hakat ghurratan fil-a‘shurid-duhumi.
hingga tampak laksana cahaya putih di antara tahun-tahun yang gelap.
سَيْبٌ مِنَ الْيَمِّ أَوْ سَيْلٌ مِنَ الْعَرِمِ ❁
saibun minal-yammi au sailun minal-‘Arimi.
lembah-lembah dialiri lautan atau diterjang banjir ‘Arim.
Bab Keenam
Tentang Kemuliaan dan Pujian terhadap Al-Qur'an
ظُهُورَ نَارِ الْقِرَى لَيْلًا عَلَى عَلَمِ ❁
zhuhûra nâril-qirâ lailan ‘alâ ‘alami.
laksana api jamuan yang terlihat pada malam hari di atas tempat yang tinggi.
وَلَيْسَ يَنْقُصُ قَدْرًا غَيْرَ مُنْتَظِمِ ❁
wa laisa yanqushu qadran ghaira muntazhimi.
namun nilainya tidak berkurang meskipun tidak dirangkai.
مَا فِيهِ مِنْ كَرَمِ الْأَخْلَاقِ وَالشِّيَمِ ❁
mâ fîhi min karamil-akhlâqi wasy-syiyami.
kemuliaan akhlak dan sifat-sifat luhur beliau?
قَدِيمَةٌ صِفَةُ الْمَوْصُوفِ بِالْقِدَمِ ❁
qadîmatun shifatul-maushûfi bil-qidami.
namun qadim sebagai sifat Dzat Yang Mahadahulu.
عَنِ الْمَعَادِ وَعَنْ عَادٍ وَعَنْ إِرَمِ ❁
‘anil-ma‘âdi wa ‘an ‘Âdin wa ‘an Irami.
tentang Hari Kebangkitan, kaum ‘Ad, dan Iram.
مِنَ النَّبِيِّينَ إِذْ جَاءَتْ وَلَمْ تَدُمِ ❁
minan-nabiyyîna idz jâ’at wa lam tadumi.
para nabi terdahulu, yang datang lalu tidak kekal.
لِذِي شِقَاقٍ وَمَا يَبْغِينَ مِنْ حَكَمِ ❁
li dzî syiqâqin wa mâ yabghîna min hakami.
bagi orang yang membantah dan tidak membutuhkan hakim.
أَعْدَى الْأَعَادِي إِلَيْهَا مُلْقِيَ السَّلَمِ ❁
a‘dal-a‘âdî ilaihâ mulqiyas-salami.
akhirnya mundur dan menyerah kepadanya.
رَدَّ الْغَيُورِ يَدَ الْجَانِي عَنِ الْحُرَمِ ❁
raddal-ghayûri yadal-jânî ‘anil-hurami.
seperti lelaki yang menjaga kehormatan melindungi kaum wanitanya dari tangan orang yang hendak menodai mereka.
وَفَوْقَ جَوْهَرِهِ فِي الْحُسْنِ وَالْقِيَمِ ❁
wa fauqa jauharihi fil-husni wal-qiyami.
bahkan melebihi mutiaranya dalam keindahan dan nilainya.
وَلَا تُسَامُ عَلَى الْإِكْثَارِ بِالسَّأَمِ ❁
wa lâ tusâmu ‘alal-iktsâri bis-sa’ami.
dan betapa pun sering diulang, tidak pernah menimbulkan kebosanan.
لَقَدْ ظَفِرْتَ بِحَبْلِ اللَّهِ فَاعْتَصِمِ ❁
laqad zhafirta bi hablillâhi fa‘tashimi.
“Engkau telah memperoleh tali Allah, maka berpegang teguhlah kepadanya.”
أَطْفَأْتَ حَرَّ لَظَى مِنْ وِرْدِهَا الشَّبِمِ ❁
athfa’ta harra lazhâ min wirdihasy-syabimi.
engkau akan memadamkan panasnya dengan kesejukan sumbernya.
مِنَ الْعُصَاةِ وَقَدْ جَاؤُوهُ كَالْحُمَمِ ❁
minal-‘ushâti wa qad jâ’ûhu kal-humami.
yang datang kepadanya dalam keadaan hitam seperti arang.
فَالْقِسْطُ مِنْ غَيْرِهَا فِي النَّاسِ لَمْ يَقُمِ ❁
fal-qisthu min ghairihâ fin-nâsi lam yaqumi.
karena keadilan di antara manusia tidak akan tegak tanpanya.
تَجَاهُلًا وَهْوَ عَيْنُ الْحَاذِقِ الْفَهِمِ ❁
tajâhulan wahwa ‘ainul-hâdziqil-fahimi.
meskipun sebenarnya ia cerdas dan memahami.
وَيُنْكِرُ الْفَمُ طَعْمَ الْمَاءِ مِنْ سَقَمِ ❁
wa yunkirul-famu tha‘mal-mâ’i min saqami.
dan mulut yang sakit dapat mengingkari rasa air.
Bab Ketujuh
Tentang Isra dan Mi'raj Nabi ﷺ
سَعْيًا وَفَوْقَ مُتُونِ الْأَيْنُقِ الرُّسُمِ ❁
sa‘yan wa fauqa mutûnil-ainuqir-rusumi.
dengan berjalan kaki maupun di atas punggung unta yang tangkas.
وَمَنْ هُوَ النِّعْمَةُ الْعُظْمَى لِمُغْتَنِمِ ❁
wa man huwan-ni‘matul-‘uzhmâ li mughtanimi.
dan nikmat teragung bagi orang yang meraih keuntungan.
كَمَا سَرَى الْبَدْرُ فِي دَاجٍ مِنَ الظُّلَمِ ❁
kamâ saral-badru fî dâjin minazh-zhulami.
sebagaimana bulan purnama berjalan menembus malam yang gelap gulita.
مِنْ قَابِ قَوْسَيْنِ لَمْ تُدْرَكْ وَلَمْ تُرَمِ ❁
min qâbi qausaini lam tudrak wa lam turami.
sejarak dua busur, yang tidak pernah dicapai dan tidak pernah diharapkan oleh selainmu.
وَالرُّسْلِ تَقْدِيمَ مَخْدُومٍ عَلَى خَدَمِ ❁
war-rusli taqdîma makhdûmin ‘alâ khadami.
sebagaimana seorang tuan didahulukan atas para pelayannya.
فِي مَوْكِبٍ كُنْتَ فِيهِ صَاحِبَ الْعَلَمِ ❁
fî maukibin kunta fîhi shâhibal-‘alami.
dalam sebuah rombongan yang engkau menjadi pemegang panjinya.
مِنَ الدُّنُوِّ وَلَا مَرْقًى لِمُسْتَنِمِ ❁
minad-dunuwwi wa lâ marqan li mustanimi.
dan tidak ada lagi tangga ketinggian bagi siapa pun yang hendak menaikinya.
نُودِيتَ بِالرَّفْعِ مِثْلَ الْمُفْرَدِ الْعَلَمِ ❁
nûdîta bir-raf‘i mitslal-mufradil-‘alami.
engkau dipanggil dengan kemuliaan seperti sebuah nama diri yang dimarfu'kan.
عَنِ الْعُيُونِ وَسِرٍّ أَيِّ مُكْتَتَمِ ❁
‘anil-‘uyûni wa sirrin aiyyi muktatami.
dan meraih rahasia yang paling tersembunyi.
وَجُزْتَ كُلَّ مَقَامٍ غَيْرَ مُزْدَحَمِ ❁
wa juzta kulla maqâmin ghaira muzdahami.
dan melampaui setiap kedudukan tanpa seorang pun menyaingimu.
وَعَزَّ إِدْرَاكُ مَا أُولِيتَ مِنْ نِعَمِ ❁
wa ‘azza idrâku mâ ûlîta min ni‘ami.
dan betapa sulit memahami segala nikmat yang diberikan kepadamu.
مِنَ الْعِنَايَةِ رُكْنًا غَيْرَ مُنْهَدِمِ ❁
minal-‘inâyati ruknan ghaira munhadimi.
tiang pertolongan Allah yang tidak akan pernah runtuh.
بِأَكْرَمِ الرُّسْلِ كُنَّا أَكْرَمَ الْأُمَمِ ❁
bi akramir-rusli kunnâ akramal-umami.
sebagai rasul yang paling mulia, kita pun menjadi umat yang paling mulia.
Bab Kedelapan
Tentang Jihad Nabi ﷺ
كَنَبْأَةٍ أَجْفَلَتْ غُفْلًا مِنَ الْغَنَمِ ❁
kanab’atin ajfalat ghuflan minal-ghanami.
seperti suara mendadak yang membuat kawanan kambing yang lengah berhamburan.
حَتَّى حَكَوْا بِالْقَنَا لَحْمًا عَلَى وَضَمِ ❁
hattâ hakau bil-qanâ lahman ‘alâ wadhami.
hingga tombak-tombak menjadikan mereka laksana daging di atas tempat pemotongan.
أَشْلَاءَ شَالَتْ مَعَ الْعِقْبَانِ وَالرَّخَمِ ❁
asy-lâ’a syâlat ma‘al-‘iqbâni war-rakhami.
kepada potongan tubuh yang dibawa elang dan burung nasar.
مَا لَمْ تَكُنْ مِنْ لَيَالِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ ❁
mâ lam takun min layâlil-asyhuril-hurumi.
kecuali malam-malam yang termasuk dalam bulan-bulan suci.
بِكُلِّ قَرْمٍ إِلَى لَحْمِ الْعِدَا قَرِمِ ❁
bi kulli qarmin ilâ lahmil-‘idâ qarimi.
bersama setiap pahlawan yang sangat berhasrat menghadapi daging musuh.
يَرْمِي بِمَوْجٍ مِنَ الْأَبْطَالِ مُلْتَطِمِ ❁
yarmî bi maujin minal-abthâli multathimi.
yang melemparkan gelombang demi gelombang para pahlawan yang saling berdesakan.
يَسْطُو بِمُسْتَأْصِلٍ لِلْكُفْرِ مُصْطَلِمِ ❁
yasthû bi musta’shilin lil-kufri mushthalimi.
menyerang dengan senjata yang mencabut kekufuran hingga ke akar-akarnya.
مِنْ بَعْدِ غُرْبَتِهَا مَوْصُولَةَ الرَّحِمِ ❁
min ba‘di ghurbatihâ maushûlatar-rahimi.
setelah keterasingannya kembali tersambung dengan keluarganya.
وَخَيْرِ بَعْلٍ فَلَمْ تَيْتَمْ وَلَمْ تَئِمِ ❁
wa khairi ba‘lin falam taitam wa lam ta’imi.
dan sebaik-baik suami, sehingga ia tidak menjadi yatim ataupun janda.
مَاذَا رَأَى مِنْهُمُ فِي كُلِّ مُصْطَدَمِ ❁
mâ dzâ ra’â minhumu fî kulli mushthadami.
apa yang mereka saksikan dalam setiap pertempuran.
فُصُولَ حَتْفٍ لَهُمْ أَدْهَى مِنَ الْوَخَمِ ❁
fushûla hatfin lahum ad-hâ minal-wakhami.
semuanya merupakan medan kematian bagi musuh yang lebih dahsyat daripada penyakit mematikan.
مِنَ الْعِدَا كُلَّ مُسْوَدٍّ مِنَ اللِّمَمِ ❁
min al-‘idâ kulla muswaddin minal-limami.
setelah menancapkannya pada kepala musuh yang berambut hitam.
أَقْلَامُهُمْ حَرْفَ جِسْمٍ غَيْرَ مُنْعَجِمِ ❁
aqlâmuhum harfa jismin ghaira mun‘ajimi.
tidak meninggalkan satu huruf pun dari tubuh musuh tanpa titik.
وَالْوَرْدُ يَمْتَازُ بِالسِّيمَا عَنِ السَّلَمِ ❁
wal-wardu yamtâzu bis-sîmâ ‘anis-salami.
sebagaimana mawar dibedakan dari pohon berduri melalui cirinya.
فَتَحْسَبُ الزَّهْرَ فِي الْأَكْمَامِ كُلَّ كَمِي ❁
fatahsabuz-zahra fil-akmâmi kulla kamî.
hingga engkau mengira setiap pahlawan adalah bunga di dalam kelopaknya.
مِنْ شِدَّةِ الْحَزْمِ لَا مِنْ شَدَّةِ الْحُزُمِ ❁
min syiddatil-hazmi lâ min syaddatil-huzumi.
karena kokohnya tekad mereka, bukan karena kuatnya ikatan pelana.
فَمَا تُفَرِّقُ بَيْنَ الْبَهْمِ وَالْبُهَمِ ❁
famâ tufarriqu bainal-bahmi wal-buhami.
hingga tidak dapat membedakan anak domba dari para pemberani.
إِنْ تَلْقَهُ الْأُسْدُ فِي آجَامِهَا تَجِمِ ❁
in talqahul-usdu fî âjâmihâ tajimi.
bahkan singa di rimbanya akan gentar ketika bertemu dengannya.
بِهِ وَلَا مِنْ عَدُوٍّ غَيْرَ مُنْقَصِمِ ❁
bihi wa lâ min ‘aduwwin ghaira munqashimi.
dan tidak pula seorang musuh kecuali telah hancur.
كَاللَّيْثِ حَلَّ مَعَ الْأَشْبَالِ فِي أَجَمِ ❁
kal-laitsi halla ma‘al-asybâli fî ajami.
seperti singa yang tinggal bersama anak-anaknya di rimba.
فِيهِ وَكَمْ خَصَمَ الْبُرْهَانُ مِنْ خَصِمِ ❁
fîhi wa kam khashamal-burhânu min khashimi.
dan betapa banyak lawan yang dibungkam oleh bukti.
فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَالتَّأْدِيبِ فِي الْيُتُمِ ❁
fil-jâhiliyyati wat-ta’dîbi fil-yutumi.
di tengah zaman Jahiliah, serta keluhuran adab beliau yang tumbuh sebagai yatim.
Bab Kesembilan
Tentang Bertawassul melalui Rasulullah ﷺ
ذُنُوبَ عُمْرٍ مَضَى فِي الشِّعْرِ وَالْخِدَمِ ❁
dzunûba ‘umrin madhâ fisy-syi‘ri wal-khidami.
dari dosa-dosa umurku yang berlalu dalam syair dan pengabdian.
كَأَنَّنِي بِهِمَا هَدْيٌ مِنَ النَّعَمِ ❁
ka annanî bihimâ hadyun minan-na‘ami.
sehingga seakan karena keduanya aku menjadi hewan kurban yang diberi tanda.
حَصَلْتُ إِلَّا عَلَى الْآثَامِ وَالنَّدَمِ ❁
hashaltu illâ ‘alal-âtsâmi wan-nadami.
dan tidak memperoleh apa pun selain dosa dan penyesalan.
لَمْ تَشْتَرِ الدِّينَ بِالدُّنْيَا وَلَمْ تَسُمِ ❁
lam tasytarid-dîna bid-dunyâ wa lam tasumi.
ia tidak membeli agama dengan dunia dan tidak pula menawarnya.
يَبِنْ لَهُ الْغَبْنُ فِي بَيْعٍ وَفِي سَلَمِ ❁
yabin lahul-ghabnu fî bai‘in wa fî salami.
akan tampak jelas kerugiannya dalam jual beli itu.
مِنَ النَّبِيِّ وَلَا حَبْلِي بِمُنْصَرِمِ ❁
minan-nabiyyi wa lâ hablî bi munsharimi.
dengan Nabi, dan tali yang menghubungkanku dengan beliau tidak terputus.
مُحَمَّدًا وَهْوَ أَوْفَى الْخَلْقِ بِالذِّمَمِ ❁
Muhammadan wahwa aufal-khalqi bidz-dzimami.
dan beliau adalah makhluk yang paling menepati ikatan.
فَضْلًا وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ ❁
fadhlan wa illâ faqul yâ zallatal-qadami.
maka katakanlah, “Betapa besarnya ketergelinciran kaki ini.”
أَوْ يَرْجِعَ الْجَارُ مِنْهُ غَيْرَ مُحْتَرَمِ ❁
au yarji‘al-jâru minhu ghaira muhtarami.
atau orang yang berlindung kepada beliau kembali tanpa dihormati.
وَجَدْتُهُ لِخَلَاصِي خَيْرَ مُلْتَزِمِ ❁
wajadtuhu li khalâshî khaira multazimi.
aku mendapati beliau sebagai sebaik-baik penjamin keselamatanku.
إِنَّ الْحَيَا يُنْبِتُ الْأَزْهَارَ فِي الْأَكَمِ ❁
innal-hayâ yunbitul-azhâra fil-akami.
karena hujan pun menumbuhkan bunga di atas bukit-bukit tinggi.
يَدَا زُهَيْرٍ بِمَا أَثْنَى عَلَى هَرِمِ ❁
yadâ Zuhairin bimâ atsnâ ‘alâ Harimi.
yang dipetik oleh kedua tangan Zuhair karena memuji Harim.
Bab Kesepuluh
Tentang Munajat dan Menyampaikan Segala Hajat
سِوَاكَ عِنْدَ حُلُولِ الْحَادِثِ الْعَمِمِ ❁
siwâka ‘inda hulûlil-hâditsil-‘amimi.
selain engkau ketika datang kedahsyatan yang meliputi seluruh makhluk.
إِذَا الْكَرِيمُ تَجَلَّى بِاسْمِ مُنْتَقِمِ ❁
idzal-karîmu tajallâ bismi muntaqimi.
ketika Dzat Yang Mahamulia menampakkan keadilan-Nya dengan nama Al-Muntaqim.
وَمِنْ عُلُومِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ ❁
wa min ‘ulûmika ‘ilmal-lauhi wal-qalami.
dan di antara ilmumu adalah ilmu Lauh dan Qalam.
إِنَّ الْكَبَائِرَ فِي الْغُفْرَانِ كَاللَّمَمِ ❁
innal-kabâ’ira fil-ghufrâni kal-lamami.
karena dosa-dosa besar di hadapan ampunan Allah laksana dosa-dosa kecil.
تَأْتِي عَلَى حَسَبِ الْعِصْيَانِ فِي الْقِسَمِ ❁
ta’tî ‘alâ hasabil-‘ishyâni fil-qisami.
datang kepadaku sesuai kadar kemaksiatanku dalam pembagian itu.
لَدَيْكَ وَاجْعَلْ حِسَابِي غَيْرَ مُنْخَرِمِ ❁
ladaika waj‘al hisâbî ghaira munkharimi.
dan jangan jadikan perhitunganku hancur.
صَبْرًا مَتَى تَدْعُهُ الْأَهْوَالُ يَنْهَزِمِ ❁
shabran matâ tad‘uhul-ahwâlu yanhazimi.
akan runtuh ketika berbagai kedahsyatan memanggilnya.
عَلَى النَّبِيِّ بِمُنْهَلٍّ وَمُنْسَجِمِ ❁
‘alan-nabiyyi bi munhallin wa munsajimi.
tercurah deras tanpa henti kepada Nabi.
وَأَطْرَبَ الْعِيسَ حَادِي الْعِيسِ بِالنَّغَمِ ❁
wa athrabal-‘îsa hâdil-‘îsi bin-naghami.
dan penggembala unta masih melantunkan nyanyian yang menggembirakan untanya.
وَعَنْ عَلِيٍّ وَعَنْ عُثْمَانَ ذِي الْكَرَمِ ❁
wa ‘an ‘Aliyyin wa ‘an ‘Utsmânadzil-karami.
serta Ali dan Utsman, pemilik kemuliaan.
أَهْلُ التُّقَى وَالنَّقَى وَالْحِلْمِ وَالْكَرَمِ ❁
ahlut-tuqâ wan-naqâ wal-hilmi wal-karami.
adalah orang-orang yang bertakwa, suci, penyantun, dan mulia.
وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ ❁
waghfir lanâ mâ madhâ yâ wâsi‘al-karami.
dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Dzat Yang Mahaluas kemurahan-Nya.
يَتْلُونَ فِي الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى وَفِي الْحَرَمِ ❁
yatlûna fil-masjidil-aqshâ wa fil-harami.
yang mereka lantunkan di Masjidil Aqsa dan Tanah Haram.
وَاسْمُهُ قَسَمٌ مِنْ أَعْظَمِ الْقَسَمِ ❁
wasmuhu qasamun min a‘zhamil-qasami.
dan yang namanya merupakan salah satu sumpah yang paling agung.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ فِي بَدْءٍ وَفِي خَتَمِ ❁
wal-hamdu lillâhi fî bad’in wa fî khatami.
segala puji bagi Allah pada permulaan dan penutupnya.
فَرِّجْ بِهَا كَرْبَنَا يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ ❁
farrij bihâ karbanâ yâ wâsi‘al-karami.
maka hilangkanlah segala kesusahan kami dengannya, wahai Dzat Yang Mahaluas kemurahan-Nya.




0 comments:
Posting Komentar