MTs. Roudlatul Mutaallimin

Dusun Manggarejo, Desa Mancon, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur

MTs. Roudlatul Mutaallimin

Cerdas, Beriman, Berbudi Luhur

MTs. RM Manggarejo

Cerdas, Beriman, Berbudi Luhur

Pembiasaan Pagi

Sholat Dhuha, Tartil Al-Quran

Moto MTs. RM

Cerdas, Beriman, Berbudi Luhur

Senin, 27 April 2026

Nama-nama benda Nabi


 Salah satu kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah memberi nama pada barang-barang dan hewan yang dimilikinya, mencerminkan perhatian beliau terhadap perkara sehari-hari, keindahan bahasa, dan kemudahan komunikasi. Pemberian nama ini menunjukkan penghormatan, pemaknaan, serta keakraban beliau terhadap benda-benda yang dipakai dalam kehidupan rumah, perjalanan, dan peperangan.

Beberapa nama properti dan hewan milik beliau antara lain:

  • Gelas: ar-Rayyan
  • Mangkok: al-Gharra’
  • Teko: as-Shadir
  • Tikar: al-Kazz
  • Gunting: al-Jami‘
  • Cermin: al-Mudillah (dengan sebuah kotak tempat menyimpan cermin, sisir, gunting, dan siwak)
  • Tongkat: al-Mamsyuq; tongkat berujung besi: an-Namir
  • Kuda hitam: as-Sakb; kuda berambut pirang: al-Murtajiz; kuda lainnya: al-Lahif, az-Zharb, al-Lizaz
  • Pelana/kudanya: ar-Rajj
  • Unta betina: al-Qashwa (juga disebut al-Adhba’)
  • Baghal: Duldul
  • Keledai: Ya‘fur
  • Kambing perah: Ghaytsah
  • Kemah: al-Kinn
  • Bendera pasukan: al-Uqab (beliau kadangkala memakai bendera hitam, kuning, atau putih dengan garis-garis hitam)
  • Pedang yang terkenal: Dzul Fiqar (dengan gagang, alas, dan anting-pedang berhias perak); beliau juga memiliki pedang lain
  • Tabung panah: al-Kafur atau Dzul Jum‘
  • Busur panah: Dzus Sadad
  • Perisai: al-Dzafn
  • Baju perang berlapis tembaga: Dzat al-Fudhul
  • Tembok/benteng pertahanan: an-Nab’a’
  • Budak perempuan: Khadhirah

Kebiasaan memberi nama ini bukan sekadar label; ia memperkaya tradisi bahasa Arab dan memberi warna personal pada kehidupan Rasulullah ﷺ, sekaligus memudahkan penyebutan dan pengingat bagi para sahabat dan kaum muslimin


Redaksi : MTs. Roudlatul Mutaallimin Manggarejo

Sabtu, 25 April 2026

Biografi - As-Suhrawardi al-Maqtul – Ilmuan Teosofis dan Filsuf Cahaya

 

As-Suhrawardi al-Maqtul – Ilmuan Teosofis dan Filsuf Cahaya

Nama lengkap tokoh ini adalah Syihabuddin Yahya bin Habasy bin Amrik As-Suhrawardi. Ia lahir pada tahun 549 H / 1154 M di Suhraward, sebuah daerah di wilayah Jibal, Iran barat laut, dekat kota Zanjan. As-Suhrawardi dikenal sebagai salah satu pemikir besar dalam tradisi filsafat Islam yang berhasil memadukan pemikiran rasional, intuisi spiritual, dan pengalaman mistik.

Ia memiliki banyak gelar kehormatan, di antaranya Shaikh al-Ishraq (Guru Filsafat Iluminasi), Master of Illumination, al-Hakim (Sang Bijaksana), ash-Shahid (Sang Syahid), dan al-Maqtul (yang terbunuh). Julukan As-Suhrawardi al-Maqtul melekat padanya karena ia wafat sebagai syahid setelah dihukum mati akibat pandangan-pandangannya yang dianggap kontroversial oleh sebagian ulama dan penguasa pada zamannya.

Kehidupan dan Perjalanan Intelektual

As-Suhrawardi hidup pada masa pemerintahan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dan putranya, al-Malik az-Zahir. Ia banyak menghabiskan masa hidupnya di kota Aleppo (Halab), Suriah, yang saat itu menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Di kota inilah ia dikenal luas sebagai seorang filsuf, sufi, sekaligus ilmuwan teosofis.

Sejak muda, As-Suhrawardi melakukan perjalanan ilmiah ke berbagai wilayah untuk menuntut ilmu. Ia belajar di Maragha, Azerbaijan, kepada Majd al-Din al-Jili, mendalami filsafat, hukum, dan teologi. Ia juga belajar filsafat kepada Fakhr al-Din al-Mardini. Kemudian ia melanjutkan studinya ke Isfahan, salah satu pusat intelektual terbesar pada masa itu. Di sana, ia mempelajari logika kepada Zahir al-Din al-Qari, serta mendalami karya-karya logika, termasuk Al-Basa'ir al-Nasiriyyah karya Umar ibn Sahlan al-Sawi.

Perjalanannya berlanjut ke Anatolia Tenggara, di mana ia mendapat sambutan baik dari para penguasa Bani Saljuk. Ia juga mengunjungi Persia, yang saat itu menjadi pusat perkembangan tasawuf. Di sana, ketertarikannya pada dunia spiritual semakin mendalam, sehingga ia memadukan filsafat rasional dengan pengalaman mistik.

Filsafat Ishraq: Filsafat Cahaya

Kontribusi terbesar As-Suhrawardi adalah pengembangan Filsafat Ishraq atau Filsafat Iluminasi. Dalam pandangannya, pengetahuan sejati tidak hanya diperoleh melalui akal dan logika, tetapi juga melalui penyinaran batin, intuisi, dan pengalaman spiritual. Menurutnya, cahaya adalah simbol sekaligus hakikat dari seluruh keberadaan.

Ia menjelaskan bahwa Allah adalah "Nur al-Anwar" (Cahaya di atas segala cahaya), sumber dari semua wujud. Seluruh alam semesta memancar dari cahaya Ilahi dalam tingkatan-tingkatan tertentu. Semakin dekat suatu wujud kepada sumber cahaya, semakin sempurna dan mulia keberadaannya.

Pandangan ini menjadikan filsafatnya sebagai jembatan antara filsafat rasional Yunani, khususnya pemikiran Plato dan Ibn Sina, dengan tradisi spiritual Islam.

As-Suhrawardi sebagai Tokoh Teosofis

As-Suhrawardi disebut sebagai ilmuwan teosofis, yaitu pemikir yang menggabungkan filsafat dengan hikmah ketuhanan. Baginya, kebenaran tidak cukup dipahami melalui argumentasi logis semata, tetapi juga harus dialami melalui penyucian jiwa, latihan spiritual, dan kedekatan dengan Allah.

Ia menekankan bahwa seorang pencari ilmu harus menyeimbangkan antara:

  • Akal, untuk memahami realitas secara rasional;
  • Hati, untuk menerima cahaya kebenaran;
  • Amal, untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah.

Karya-Karya Penting

As-Suhrawardi menulis banyak karya dalam bidang filsafat, tasawuf, dan logika. Karya utamanya adalah Hikmat al-Ishraq (Kebijaksanaan Iluminasi), yang menjadi landasan utama mazhab filsafat iluminasi.

Selain itu, ia juga menulis beberapa karya penting lainnya, seperti:

  • Talwihat
  • Muqawamat
  • Mutharahat
  • Hayakil al-Nur
  • Awarif al-Ma'arif (dikaitkan dalam tradisi tasawuf sebagai rujukan latihan spiritual)

Karya-karyanya membahas hubungan antara akal, intuisi, dan cahaya Ilahi dalam pencarian kebenaran.

Tugas : Nisa

Akhir Hayat dan Warisan Pemikiran

Pada usia yang relatif muda, sekitar 36 tahun, As-Suhrawardi wafat di Aleppo pada tahun 587 H / 1191 M. Ia dihukum mati karena ajaran-ajarannya dianggap mengancam otoritas keagamaan dan politik saat itu. Oleh karena itu, ia dikenang dengan gelar ash-Shahid dan al-Maqtul.

Meskipun hidupnya berakhir tragis, pemikirannya terus hidup dan memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan filsafat Islam, terutama di Persia. Mazhab Ishraqiyyah yang didirikannya menjadi salah satu aliran penting dalam tradisi intelektual Islam dan memengaruhi banyak pemikir setelahnya.

Nilai Keteladanan As-Suhrawardi

Dari perjalanan hidup As-Suhrawardi, kita dapat mengambil beberapa pelajaran berharga:

  1. Semangat tinggi dalam menuntut ilmu.
  2. Keberanian dalam menyampaikan kebenaran.
  3. Keseimbangan antara akal dan spiritualitas.
  4. Pentingnya penyucian jiwa dalam mencari hikmah.
  5. Keteguhan dalam mempertahankan keyakinan.

As-Suhrawardi al-Maqtul merupakan teladan ulama dan filsuf yang menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan sejati tidak hanya menerangi pikiran, tetapi juga menerangi hati dan jiwa manusia.

Biografi - Al-Bushiri – Sastrawan Penulis Qasidah Burdah - Syair Qasidah Burdah Lengkap

 TUGAS : Ilmi Fanatik

Biografi - Al-Bushiri – Sastrawan Penulis Qasidah Burdah

Nama lengkapnya adalah Syarafuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Sa‘id Al-Bushiri, atau lebih dikenal sebagai Al-Bushiri. Ia lahir pada tahun 608 H / 1212 M di daerah Dalasah, Mesir, dan wafat sekitar tahun 696 H / 1297 M.

Al-Bushiri dikenal sebagai seorang penyair sufi, sastrawan besar, serta pecinta Nabi Muhammad. Julukan “Al-Bushiri” diambil dari nama daerah asal keluarganya, yaitu Bushir, sebuah wilayah di Mesir Hulu.

Ia hidup pada masa akhir Dinasti Ayyubiyah hingga awal pemerintahan Dinasti Mamluk, yaitu masa ketika semangat keagamaan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW berkembang pesat di tengah masyarakat Muslim.

Sejak kecil, Al-Bushiri telah dikenal cerdas dan gemar mempelajari bahasa Arab, sastra, serta Al-Qur’an. Ia menimba ilmu kepada para ulama besar di Mesir dan memiliki hubungan erat dengan kalangan sufi, terutama dengan Abu al-Hasan asy-Syadzili, pendiri Tarekat Syadziliyah.

Selain sebagai sastrawan, Al-Bushiri juga pernah bekerja sebagai penulis dan juru administrasi di pemerintahan. Namun, minat utamanya tetap pada dunia sastra dan tasawuf. Puisi-puisi karyanya sarat dengan nilai keimanan, cinta kepada Rasulullah SAW, serta ajakan untuk memperbaiki akhlak.

Karya Terkenal: Qasidah Burdah

Karya yang membuat nama Al-Bushiri terkenal sepanjang masa adalah Qasidah al-Burdah (Puisi Jubah). Qasidah ini berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW, ungkapan cinta yang mendalam, serta nasihat spiritual bagi umat Islam.

Menurut riwayat, Al-Bushiri pernah mengalami sakit lumpuh. Dalam keadaan tersebut, ia menggubah Qasidah Burdah dengan penuh keikhlasan. Setelah itu, ia bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW yang menyelimutinya dengan jubah (burdah). Ketika terbangun, ia pun sembuh dari penyakitnya. Peristiwa inilah yang membuat qasidah tersebut dinamakan “Burdah” (jubah).

Pengaruh dan Warisan

Qasidah Burdah menjadi salah satu karya sastra Islam paling terkenal di dunia. Hingga kini, puisi ini sering dibacakan dalam berbagai acara keagamaan seperti maulid Nabi, pengajian, dan majelis zikir di berbagai negara Muslim.

Al-Bushiri dikenang sebagai sastrawan besar yang berhasil menggabungkan keindahan bahasa dengan kedalaman spiritual. Karyanya tidak hanya bernilai sastra tinggi, tetapi juga menjadi sarana dakwah dan penguatan cinta kepada Rasulullah SAW.



SYAIR QASIDAH BURDAH


الْحَمْدُ لِلَّهِ مُنْشِي الْخَلْقِ مِنْ عَدَمِ ❁
ثُمَّ الصَّلَاةُ عَلَى الْمُخْتَارِ فِي الْقِدَمِ ❁
Al-hamdu lillâhi munsyil-khalqi min ‘adami,
tsummash-shalâtu ‘alal-mukhtâri fil-qidami.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menciptakan makhluk dari ketiadaan,
kemudian sholawat tercurah kepada Nabi pilihan sejak zaman azali.

Refrain


مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا ❁
عَلَى حَبِيبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ ❁
Maulâya shalli wa sallim dâ’iman abadan,
‘alâ habîbika khairil-khalqi kullihimi.
Wahai Tuhanku, limpahkanlah sholawat dan salam senantiasa dan selamanya,
kepada kekasih-Mu, sebaik-baik seluruh makhluk.
الْفَصْلُ الْأَوَّلُ فِي الْغَزَلِ وَشَكْوَى الْغَرَامِ
Al-Fashlul-Awwal: Fil-Ghazali wa Syakwal-Gharâmi

Bab Pertama

Tentang Cinta dan Keluhan Kerinduan

أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيرَانٍ بِذِي سَلَمِ ❁
مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ ❁
Amin tadzakkuri jîrânin bi Dzî Salami,
mazajta dam‘an jarâ min muqlatin bi dami.
1. Apakah karena mengenang para penghuni Dzi Salam,
engkau mencampurkan air mata yang mengalir dari matamu dengan darah?
أَمْ هَبَّتِ الرِّيحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَةٍ ❁
وَأَوْمَضَ الْبَرْقُ فِي الظَّلْمَاءِ مِنْ إِضَمِ ❁
Am habbatir-rîhu min tilqâ’i Kâzhimatin,
wa aumadhal-barqu fizh-zhalmâ’i min Idhami.
2. Ataukah angin bertiup dari arah Kazhimah,
dan kilat menyambar dalam kegelapan malam dari arah Idham?
فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَا ❁
وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِمِ ❁
Famâ li ‘ainaika in qultakfufâ hamatâ,
wa mâ li qalbika in qulta istafiq yahimi.
3. Mengapa kedua matamu, ketika engkau berkata, “Berhentilah,” justru terus mengalir,
dan mengapa hatimu, ketika engkau berkata, “Tenanglah,” justru semakin gelisah?
أَيَحْسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتِمٌ ❁
مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمُضْطَرِمِ ❁
Ayahsabush-shabbu annal-hubba munkatimun,
mâ baina munsajimin minhu wa mudhtharimi.
4. Apakah seorang pecinta mengira bahwa cintanya dapat disembunyikan,
di antara air mata yang mengalir dan hati yang membara?
لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعًا عَلَى طَلَلٍ ❁
وَلَا أَرِقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلَمِ ❁
Laulal-hawâ lam turiq dam‘an ‘alâ thalalin,
wa lâ ariqta li dzikril-bâni wal-‘alami.
5. Kalaulah bukan karena cinta, tentu engkau tidak akan meneteskan air mata di atas bekas-bekas kediaman,
dan kenangan akan pohon ban dan Gunung Alam tidak akan membuatmu terjaga.
فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُبًّا بَعْدَ مَا شَهِدَتْ ❁
بِهِ عَلَيْكَ عُدُولُ الدَّمْعِ وَالسَّقَمِ ❁
Fakaifa tunkiru hubban ba‘da mâ syahidat,
bihi ‘alaika ‘udûlud-dam‘i was-saqami.
6. Bagaimana mungkin engkau mengingkari cintamu setelah dua saksi yang adil,
air matamu dan sakitmu, telah bersaksi atasnya?
وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَضَنًى ❁
مِثْلَ الْبَهَارِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَمِ ❁
Wa atsbatal-wajdu khaththai ‘abratin wa dhanan,
mitslal-bahâri ‘alâ khaddaika wal-‘anami.
7. Kerinduan telah menggoreskan dua garis pada kedua pipimu, berupa air mata dan kepucatan,
laksana bunga kuning dan buah ‘anam yang merah.
نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرَّقَنِي ❁
وَالْحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتِ بِالْأَلَمِ ❁
Na‘am sarâ thaifu man ahwâ fa arraqanî,
wal-hubbu ya‘taridhul-ladzdzâti bil-alami.
8. Benar, bayangan kekasihku datang pada malam hari dan membuatku terjaga,
karena cinta mencampurkan setiap kenikmatan dengan rasa sakit.
يَا لَائِمِي فِي الْهَوَى الْعُذْرِيِّ مَعْذِرَةً ❁
مِنِّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ ❁
Yâ lâ’imî fil-hawal-‘udzriyyi ma‘dziratan,
minnî ilaika walau anshafta lam talumi.
9. Wahai orang yang mencelaku karena cinta yang suci, terimalah alasanku,
jika engkau bersikap adil, tentu engkau tidak akan mencelaku.
عَدَتْكَ حَالِيَ لَا سِرِّي بِمُسْتَتِرٍ ❁
عَنِ الْوُشَاةِ وَلَا دَائِي بِمُنْحَسِمِ ❁
‘Adatka hâliya lâ sirrî bi mustatirin,
‘anil-wusyâti wa lâ dâ’î bi munhasimi.
10. Keadaanku telah sampai kepadamu, rahasiaku tidak lagi tersembunyi dari para pengadu domba,
dan penyakitku pun tidak kunjung sembuh.
مَحَّضْتَنِي النُّصْحَ لَكِنْ لَسْتُ أَسْمَعُهُ ❁
إِنَّ الْمُحِبَّ عَنِ الْعُذَّالِ فِي صَمَمِ ❁
Mahhadhtanin-nushha lâkin lastu asma‘uhu,
innal-muhibba ‘anil-‘udzdzâli fî shamami.
11. Engkau telah memberiku nasihat yang tulus, tetapi aku tidak mendengarnya,
karena seorang pecinta tuli terhadap celaan orang yang mencelanya.
إِنِّي اتَّهَمْتُ نَصِيحَ الشَّيْبِ فِي عَذَلٍ ❁
وَالشَّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحٍ عَنِ التُّهَمِ ❁
Innîttahamtu nashîhasy-syaibi fî ‘adzalin,
wasy-syaibu ab‘adu fî nushhin ‘anit-tuhami.
12. Aku bahkan mencurigai nasihat uban yang menegurku,
padahal nasihat uban paling jauh dari segala kecurigaan.
الْفَصْلُ الثَّانِي فِي التَّحْذِيرِ مِنْ هَوَى النَّفْسِ
Al-Fashluts-Tsânî: Fit-Tahdzîri min Hawan-Nafsi

Bab Kedua

Tentang Peringatan terhadap Hawa Nafsu

فَإِنَّ أَمَّارَتِي بِالسُّوءِ مَا اتَّعَظَتْ ❁
مِنْ جَهْلِهَا بِنَذِيرِ الشَّيْبِ وَالْهَرَمِ ❁
Fa inna ammâratî bis-sû’i matta‘azhat,
min jahlihâ bi nadzîrisy-syaibi wal-harami.
13. Sungguh, nafsuku yang selalu menyuruh kepada keburukan tidak mengambil pelajaran,
karena kebodohannya, dari peringatan uban dan usia tua.
وَلَا أَعَدَّتْ مِنَ الْفِعْلِ الْجَمِيلِ قِرَى ❁
ضَيْفٍ أَلَمَّ بِرَأْسِي غَيْرَ مُحْتَشِمِ ❁
Wa lâ a‘addat minal-fi‘lil-jamîli qirâ,
dhaifin alamma bi ra’sî ghaira muhtasyimi.
14. Ia pun tidak mempersiapkan amal baik sebagai jamuan,
bagi tamu yang tiba-tiba datang di kepalaku tanpa merasa sungkan.
لَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ أَنِّي مَا أُوَقِّرُهُ ❁
كَتَمْتُ سِرًّا بَدَا لِي مِنْهُ بِالْكَتَمِ ❁
Lau kuntu a‘lamu annî mâ uwaqqiruhu,
katamtu sirran badâ lî minhu bil-katami.
15. Seandainya aku tahu bahwa aku tidak akan menghormatinya,
tentu kusembunyikan rahasia yang tampak itu dengan pewarna rambut.
مَنْ لِي بِرَدِّ جِمَاحٍ مِنْ غَوَايَتِهَا ❁
كَمَا يُرَدُّ جِمَاحُ الْخَيْلِ بِاللُّجُمِ ❁
Man lî bi raddi jimâhin min ghawâyatihâ,
kamâ yuraddu jimâhul-khaili bil-lujumi.
16. Siapakah yang dapat membantuku mengendalikan nafsu yang liar dari kesesatannya,
sebagaimana kuda liar dikendalikan dengan tali kekang?
فَلَا تَرُمْ بِالْمَعَاصِي كَسْرَ شَهْوَتِهَا ❁
إِنَّ الطَّعَامَ يُقَوِّي شَهْوَةَ النَّهِمِ ❁
Falâ tarum bil-ma‘âshî kasra syahwatihâ,
innath-tha‘âma yuqawwî syahwatan-nahimi.
17. Jangan berusaha mematahkan syahwatnya dengan kemaksiatan,
karena makanan justru menambah nafsu makan orang yang rakus.
وَالنَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ❁
حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ ❁
Wan-nafsu kath-thifli in tuhmilhu syabba ‘alâ,
hubbir-radhâ‘i wa in tafthimhu yanfathimi.
18. Nafsu itu seperti seorang anak kecil, jika engkau membiarkannya, ia akan tumbuh dewasa,
dalam keadaan tetap menyukai susu, tetapi jika engkau menyapihnya, ia akan berhenti.
فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ ❁
إِنَّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصْمِ أَوْ يَصِمِ ❁
Fashrif hawâhâ wa hâdzir an tuwalliyahu,
innal-hawâ mâ tawallâ yushmi au yashimi.
19. Maka palingkanlah hawa nafsunya dan berhati-hatilah agar jangan membiarkannya berkuasa,
karena jika hawa nafsu berkuasa, ia akan membinasakan atau mencemarkan.
وَرَاعِهَا وَهْيَ فِي الْأَعْمَالِ سَائِمَةٌ ❁
وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلَا تُسِمِ ❁
Wa râ‘ihâ wahya fil-a‘mâli sâ’imatun,
wa in hiyastahlatil-mar‘â falâ tusimi.
20. Awasilah nafsu ketika ia berada di padang amal,
dan jika ia menyukai suatu tempat penggembalaan, jangan biarkan ia bebas merumput.
كَمْ حَسَّنَتْ لَذَّةً لِلْمَرْءِ قَاتِلَةً ❁
مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنَّ السُّمَّ فِي الدَّسَمِ ❁
Kam hassanat ladzdzatan lil-mar’i qâtilatan,
min haitsu lam yadri annas-summa fid-dasami.
21. Betapa banyak kenikmatan yang dibuatnya indah bagi seseorang, padahal mematikan,
sementara ia tidak menyadari bahwa racun tersembunyi di dalam makanan yang lezat.
وَاخْشَ الدَّسَائِسَ مِنْ جُوعٍ وَمِنْ شِبَعٍ ❁
فَرُبَّ مَخْمَصَةٍ شَرٌّ مِنَ التُّخَمِ ❁
Wakhsyad-dasâ’isa min jû‘in wa min syiba‘in,
farubba makhmashatin syarrun minat-tukhami.
22. Waspadalah terhadap tipu daya rasa lapar dan kenyang,
karena terkadang kelaparan lebih buruk daripada kekenyangan.
وَاسْتَفْرِغِ الدَّمْعَ مِنْ عَيْنٍ قَدِ امْتَلَأَتْ ❁
مِنَ الْمَحَارِمِ وَالْزَمْ حِمْيَةَ النَّدَمِ ❁
Wastafrighid-dam‘a min ‘ainin qadimtala’at,
minal-mahârimi walzam himyatan-nadami.
23. Curahkanlah air mata dari mata yang telah dipenuhi perkara haram,
dan berpeganglah pada penyesalan serta penjagaan diri.
وَخَالِفِ النَّفْسَ وَالشَّيْطَانَ وَاعْصِهِمَا ❁
وَإِنْ هُمَا مَحَضَاكَ النُّصْحَ فَاتَّهِمِ ❁
Wa khâlifin-nafsa wasy-syaithâna wa‘shihimâ,
wa in humâ mahadhâkan-nushha fattahimi.
24. Lawanlah nafsu dan setan serta durhakalah kepada keduanya,
dan jika keduanya memberimu nasihat yang tulus sekalipun, tetaplah curiga terhadapnya.
وَلَا تُطِعْ مِنْهُمَا خَصْمًا وَلَا حَكَمًا ❁
فَأَنْتَ تَعْرِفُ كَيْدَ الْخَصْمِ وَالْحَكَمِ ❁
Wa lâ tuthi‘ minhumâ khashman wa lâ hakaman,
fa anta ta‘rifu kaidal-khashmi wal-hakami.
25. Jangan menaati keduanya, baik sebagai lawan maupun sebagai hakim,
karena engkau mengetahui tipu daya lawan dan hakim.
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ مِنْ قَوْلٍ بِلَا عَمَلٍ ❁
لَقَدْ نَسَبْتُ بِهِ نَسْلًا لِذِي عُقُمِ ❁
Astaghfirullâha min qaulin bilâ ‘amalin,
laqad nasabtu bihi naslan li dzî ‘uqumi.
26. Aku memohon ampun kepada Allah atas perkataan yang tidak disertai amal,
karena dengan itu aku seakan menisbatkan keturunan kepada orang yang mandul.
أَمَرْتُكَ الْخَيْرَ لَكِنْ مَا ائْتَمَرْتُ بِهِ ❁
وَمَا اسْتَقَمْتُ فَمَا قَوْلِي لَكَ اسْتَقِمِ ❁
Amartukal-khaira lâkin mâ’tamartu bihi,
wamastaqamtu famâ qaulî lakastaqimi.
27. Aku memerintahkanmu berbuat baik, tetapi aku sendiri tidak melaksanakannya,
aku pun belum istiqamah, lalu bagaimana mungkin aku berkata kepadamu, “Istiqamahlah”?
وَلَا تَزَوَّدْتُ قَبْلَ الْمَوْتِ نَافِلَةً ❁
وَلَمْ أُصَلِّ سِوَى فَرْضٍ وَلَمْ أَصُمِ ❁
Wa lâ tazawwadtu qablal-mauti nâfilatan,
wa lam ushalli siwâ fardhin wa lam ashumi.
28. Aku tidak mempersiapkan bekal ibadah sunnah sebelum kematian,
dan tidak mengerjakan sholat maupun puasa selain yang wajib.
الْفَصْلُ الثَّالِثُ فِي مَدْحِ النَّبِيِّ ﷺ
Al-Fashluts-Tsâlits: Fî Madhin-Nabiyyi

Bab Ketiga

Tentang Pujian kepada Nabi ﷺ

ظَلَمْتُ سُنَّةَ مَنْ أَحْيَا الظَّلَامَ إِلَى ❁
أَنِ اشْتَكَتْ قَدَمَاهُ الضُّرَّ مِنْ وَرَمِ ❁
Zhalamtu sunnata man ahyazh-zhalâma ilâ,
anisytakat qadamâhu adh-dhurra min warami.
29. Aku telah mengabaikan sunnah beliau yang menghidupkan malam dengan ibadah,
hingga kedua kaki beliau mengeluhkan sakit karena bengkak.
وَشَدَّ مِنْ سَغَبٍ أَحْشَاءَهُ وَطَوَى ❁
تَحْتَ الْحِجَارَةِ كَشْحًا مُتْرَفَ الْأَدَمِ ❁
Wa syadda min saghabin ahsyâ’ahu wa thawâ,
tahtal-hijârati kasyhan mutrafal-adami.
30. Karena lapar, beliau mengikat perutnya,
dan mengganjal batu pada pinggangnya yang lembut.
وَرَاوَدَتْهُ الْجِبَالُ الشُّمُّ مِنْ ذَهَبٍ ❁
عَنْ نَفْسِهِ فَأَرَاهَا أَيَّمَا شَمَمِ ❁
Wa râwadat-hul-jibâlusy-syummu min dzahabin,
‘an nafsihi fa arâhâ aiyamâ syamami.
31. Gunung-gunung yang tinggi menawarkan diri menjadi emas untuk beliau,
namun beliau memperlihatkan kepada mereka betapa luhur kezuhudannya.
وَأَكَّدَتْ زُهْدَهُ فِيهَا ضَرُورَتُهُ ❁
إِنَّ الضَّرُورَةَ لَا تَعْدُو عَلَى الْعِصَمِ ❁
Wa akkadat zuhdahu fîhâ dharûratuhu,
innadh-dharûrata lâ ta‘dû ‘alal-‘ishami.
32. Kebutuhan beliau justru semakin menegaskan kezuhudannya terhadap dunia,
karena kebutuhan tidak mampu menguasai orang-orang yang terjaga dari dosa.
وَكَيْفَ تَدْعُو إِلَى الدُّنْيَا ضَرُورَةُ مَنْ ❁
لَوْلَاهُ لَمْ تُخْرَجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ ❁
Wa kaifa tad‘û ilad-dunyâ dharûratu man,
laulâhu lam tukhrajid-dunyâ minal-‘adami.
33. Bagaimana mungkin kebutuhan kepada dunia dapat menarik hati beliau kepadanya,
sedangkan tanpa beliau dunia tidak akan dikeluarkan dari ketiadaan?
مُحَمَّدٌ سَيِّدُ الْكَوْنَيْنِ وَالثَّقَلَيْـ
ـنِ وَالْفَرِيقَيْنِ مِنْ عُرْبٍ وَمِنْ عَجَمِ ❁
Muhammadun sayyidul-kaunaini wats-tsaqalai-
-ni wal-farîqaini min ‘urbin wa min ‘ajami.
34. Muhammad adalah pemimpin dua alam dan dua golongan,
serta pemimpin bangsa Arab dan non-Arab.
نَبِيُّنَا الْآمِرُ النَّاهِي فَلَا أَحَدٌ ❁
أَبَرَّ فِي قَوْلِ لَا مِنْهُ وَلَا نَعَمِ ❁
Nabiyyunal-âmirun-nâhî falâ ahadun,
abarra fî qauli lâ minhu wa lâ na‘ami.
35. Nabi kita adalah yang memerintah dan melarang, dan tidak seorang pun,
lebih benar daripada beliau ketika berkata “tidak” maupun “ya”.
هُوَ الْحَبِيبُ الَّذِي تُرْجَى شَفَاعَتُهُ ❁
لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ الْأَهْوَالِ مُقْتَحَمِ ❁
Huwal-habîbulladzî turjâ syafâ‘atuhu,
likulli haulin minal-ahwâli muqtahami.
36. Beliaulah sang kekasih yang syafaatnya diharapkan,
dalam menghadapi setiap kedahsyatan yang menerjang.
دَعَا إِلَى اللَّهِ فَالْمُسْتَمْسِكُونَ بِهِ ❁
مُسْتَمْسِكُونَ بِحَبْلٍ غَيْرِ مُنْفَصِمِ ❁
Da‘â ilallâhi fal-mustamsikûna bihi,
mustamsikûna bi hablin ghairi munfashimi.
37. Beliau menyeru kepada Allah, maka orang-orang yang berpegang teguh kepada beliau,
berpegang pada tali yang tidak akan pernah terputus.
فَاقَ النَّبِيِّينَ فِي خَلْقٍ وَفِي خُلُقٍ ❁
وَلَمْ يُدَانُوهُ فِي عِلْمٍ وَلَا كَرَمِ ❁
Fâqan-nabiyyîna fî khalqin wa fî khuluqin,
wa lam yudânûhu fî ‘ilmin wa lâ karami.
38. Beliau mengungguli seluruh nabi dalam rupa dan akhlak,
dan mereka tidak mendekati beliau dalam ilmu maupun kemurahan hati.
وَكُلُّهُمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ مُلْتَمِسٌ ❁
غَرْفًا مِنَ الْبَحْرِ أَوْ رَشْفًا مِنَ الدِّيَمِ ❁
Wa kulluhum min Rasûlillâhi multamisun,
gharfan minal-bahri au rasyfan minad-diyami.
39. Seluruh nabi mengambil dari Rasulullah,
segenggam dari lautan atau seteguk dari hujan yang terus tercurah.
وَوَاقِفُونَ لَدَيْهِ عِنْدَ حَدِّهِمِ ❁
مِنْ نُقْطَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ شَكْلَةِ الْحِكَمِ ❁
Wa wâqifûna ladaihi ‘inda haddihimi,
min nuqthatil-‘ilmi au min syaklatil-hikami.
40. Mereka semua berdiri di hadapan beliau sesuai batas masing-masing,
pada satu titik ilmu atau satu tanda hikmah.
فَهْوَ الَّذِي تَمَّ مَعْنَاهُ وَصُورَتُهُ ❁
ثُمَّ اصْطَفَاهُ حَبِيبًا بَارِئُ النَّسَمِ ❁
Fahwalladzî tamma ma‘nâhu wa shûratuhu,
tsummashthafâhu habîban bâri’un-nasami.
41. Beliaulah yang sempurna makna dan rupanya,
kemudian Sang Pencipta jiwa memilih beliau sebagai kekasih-Nya.
مُنَزَّهٌ عَنْ شَرِيكٍ فِي مَحَاسِنِهِ ❁
فَجَوْهَرُ الْحُسْنِ فِيهِ غَيْرُ مُنْقَسِمِ ❁
Munazzahun ‘an syarîkin fî mahâsinihi,
fajauharul-husni fîhi ghairu munqasimi.
42. Beliau tersucikan dari sekutu dalam segala keindahannya,
karena hakikat keindahan dalam dirinya tidak terbagi.
دَعْ مَا ادَّعَتْهُ النَّصَارَى فِي نَبِيِّهِمِ ❁
وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحًا فِيهِ وَاحْتَكِمِ ❁
Da‘ mâdda‘at-hun-nashârâ fî nabiyyihimi,
wahkum bimâ syi’ta madhan fîhi wahtakimi.
43. Tinggalkanlah apa yang diklaim kaum Nasrani tentang nabi mereka,
dan setelah itu pujilah beliau sesukamu dan tetapkanlah kebesaran yang engkau kehendaki.
وَانْسُبْ إِلَى ذَاتِهِ مَا شِئْتَ مِنْ شَرَفٍ ❁
وَانْسُبْ إِلَى قَدْرِهِ مَا شِئْتَ مِنْ عِظَمِ ❁
Wansub ilâ dzâtihi mâ syi’ta min syarafin,
wansub ilâ qadrihi mâ syi’ta min ‘izhami.
44. Nisbatkanlah kepada pribadi beliau segala kemuliaan yang engkau kehendaki,
dan kepada kedudukan beliau segala keagungan yang engkau kehendaki.
فَإِنَّ فَضْلَ رَسُولِ اللَّهِ لَيْسَ لَهُ ❁
حَدٌّ فَيُعْرِبَ عَنْهُ نَاطِقٌ بِفَمِ ❁
Fa inna fadhla Rasûlillâhi laisa lahu,
haddun fayu‘riba ‘anhu nâthiqun bi fami.
45. Sungguh, keutamaan Rasulullah tidak memiliki batas,
yang dapat diungkapkan oleh seseorang dengan lisannya.
لَوْ نَاسَبَتْ قَدْرَهُ آيَاتُهُ عِظَمًا ❁
أَحْيَا اسْمُهُ حِينَ يُدْعَى دَارِسَ الرِّمَمِ ❁
Lau nâsabat qadrahu âyâtuhu ‘izhoman,
ahyasmuhu hîna yud‘â dârisar-rimami.
46. Seandainya mukjizat-mukjizat beliau sebanding dengan keagungan kedudukannya,
niscaya namanya dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur ketika disebut.
لَمْ يَمْتَحِنَّا بِمَا تَعْيَا الْعُقُولُ بِهِ ❁
حِرْصًا عَلَيْنَا فَلَمْ نَرْتَبْ وَلَمْ نَهِمِ ❁
Lam yamtahinnâ bimâ ta‘yal-‘uqûlu bihi,
hirshan ‘alainâ falam nartab wa lam nahimi.
47. Beliau tidak membebani kita dengan perkara yang tidak mampu dijangkau akal,
karena kasih sayangnya kepada kita, sehingga kita tidak ragu dan tidak pula kebingungan.
أَعْيَا الْوَرَى فَهْمُ مَعْنَاهُ فَلَيْسَ يُرَى ❁
فِي الْقُرْبِ وَالْبُعْدِ فِيهِ غَيْرُ مُنْفَحِمِ ❁
A‘yal-warâ fahmu ma‘nâhu falaisa yurâ,
fil-qurbi wal-bu‘di fîhi ghairu munfahimi.
48. Seluruh makhluk tidak mampu memahami hakikat beliau,
maka baik yang dekat maupun yang jauh tidak mampu memahaminya.
كَالشَّمْسِ تَظْهَرُ لِلْعَيْنَيْنِ مِنْ بُعُدٍ ❁
صَغِيرَةً وَتُكِلُّ الطَّرْفَ مِنْ أَمَمِ ❁
Kasy-syamsi tazhharu lil-‘ainaini min bu‘udin,
shaghîratan wa tukilluth-tharfa min amami.
49. Beliau laksana matahari yang dari kejauhan tampak kecil bagi kedua mata,
namun dari dekat membuat pandangan tak mampu menatapnya.
وَكَيْفَ يُدْرِكُ فِي الدُّنْيَا حَقِيقَتَهُ ❁
قَوْمٌ نِيَامٌ تَسَلَّوْا عَنْهُ بِالْحُلُمِ ❁
Wa kaifa yudriku fid-dunyâ haqîqatahu,
qaumun niyâmun tasallau ‘anhu bil-hulumi.
50. Bagaimana mungkin orang-orang di dunia memahami hakikat beliau,
sedangkan mereka tertidur dan merasa cukup dengan mimpi?
فَمَبْلَغُ الْعِلْمِ فِيهِ أَنَّهُ بَشَرٌ ❁
وَأَنَّهُ خَيْرُ خَلْقِ اللَّهِ كُلِّهِمِ ❁
Famablaghul-‘ilmi fîhi annahu basyarun,
wa annahu khairu khalqillâhi kullihimi.
51. Sejauh-jauh pengetahuan kita tentang beliau hanyalah bahwa beliau seorang manusia,
namun beliau adalah sebaik-baik seluruh makhluk Allah.
وَكُلُّ آيٍ أَتَى الرُّسْلُ الْكِرَامُ بِهَا ❁
فَإِنَّمَا اتَّصَلَتْ مِنْ نُورِهِ بِهِمِ ❁
Wa kullu âyin atar-ruslul-kirâmu bihâ,
fa innamattashalat min nûrihi bihimi.
52. Setiap mukjizat yang dibawa para rasul yang mulia,
sesungguhnya sampai kepada mereka dari cahaya beliau.
فَإِنَّهُ شَمْسُ فَضْلٍ هُمْ كَوَاكِبُهَا ❁
يُظْهِرْنَ أَنْوَارَهَا لِلنَّاسِ فِي الظُّلَمِ ❁
Fa innahu syamsu fadhlin hum kawâkibuhâ,
yuzhhirna anwârahâ lin-nâsi fizh-zhulami.
53. Beliau adalah matahari keutamaan, sedangkan para nabi lainnya adalah bintang-bintangnya,
yang memancarkan cahayanya kepada manusia di tengah kegelapan.
أَكْرِمْ بِخَلْقِ نَبِيٍّ زَانَهُ خُلُقٌ ❁
بِالْحُسْنِ مُشْتَمِلٍ بِالْبِشْرِ مُتَّسِمِ ❁
Akrim bi khalqi nabiyyin zânahu khuluqun,
bil-husni musytamilin bil-bisyri muttasimi.
54. Betapa mulianya rupa seorang Nabi yang dihiasi akhlak mulia,
diselimuti keindahan dan dihiasi senyum yang bercahaya.
كَالزَّهْرِ فِي تَرَفٍ وَالْبَدْرِ فِي شَرَفٍ ❁
وَالْبَحْرِ فِي كَرَمٍ وَالدَّهْرِ فِي هِمَمِ ❁
Kazzahri fî tarafin wal-badri fî syarafin,
wal-bahri fî karamin wad-dahri fî himami.
55. Beliau laksana bunga dalam kelembutan, bulan purnama dalam kemuliaan,
lautan dalam kemurahan hati, dan zaman dalam keluhuran cita-cita.
كَأَنَّهُ وَهْوَ فَرْدٌ مِنْ جَلَالَتِهِ ❁
فِي عَسْكَرٍ حِينَ تَلْقَاهُ وَفِي حَشَمِ ❁
Ka annahu wahwa fardun min jalâlatihi,
fî ‘askarin hîna talqâhu wa fî hasyami.
56. Karena keagungan beliau, meskipun seorang diri, beliau tampak,
seakan berada di tengah pasukan dan para pengiring.
كَأَنَّمَا اللُّؤْلُؤُ الْمَكْنُونُ فِي صَدَفٍ ❁
مِنْ مَعْدِنَيْ مَنْطِقٍ مِنْهُ وَمُبْتَسَمِ ❁
Ka annamal-lu’lu’ul-maknûnu fî shadafin,
min ma‘dinai manthiqin minhu wa mubtasami.
57. Seakan mutiara yang tersimpan di dalam kerangnya,
keluar dari dua sumber, yaitu tutur kata dan senyum beliau.
لَا طِيبَ يَعْدِلُ تُرْبًا ضَمَّ أَعْظُمَهُ ❁
طُوبَى لِمُنْتَشِقٍ مِنْهُ وَمُلْتَثِمِ ❁
Lâ thîba ya‘dilu turban dhamma a‘zhumahu,
thûbâ li muntasyiqin minhu wa multatsimi.
58. Tiada wewangian yang menyamai tanah yang memeluk jasad beliau,
beruntunglah orang yang mencium dan mengecupnya.
الْفَصْلُ الرَّابِعُ فِي مَوْلِدِهِ ﷺ
Al-Fashlur-Râbi‘: Fî Maulidihi

Bab Keempat

Tentang Kelahiran Nabi ﷺ

أَبَانَ مَوْلِدُهُ عَنْ طِيبِ عُنْصُرِهِ ❁
يَا طِيبَ مُبْتَدَإٍ مِنْهُ وَمُخْتَتَمِ ❁
Abâna mauliduhu ‘an thîbi ‘unshurihi,
yâ thîba mubtada’in minhu wa mukhtatami.
59. Kelahiran beliau menampakkan kemuliaan asal-usulnya,
betapa mulia permulaan dan akhirnya.
يَوْمٌ تَفَرَّسَ فِيهِ الْفُرْسُ أَنَّهُمُ ❁
قَدْ أُنْذِرُوا بِحُلُولِ الْبُؤْسِ وَالنِّقَمِ ❁
Yaumun tafarrasa fîhil-Fursu annahumu,
qad undzirû bi hulûlil-bu’si wan-niqami.
60. Pada hari itu bangsa Persia mengetahui bahwa mereka,
telah diperingatkan akan datangnya kesengsaraan dan bencana.
وَبَاتَ إِيوَانُ كِسْرَى وَهْوَ مُنْصَدِعٌ ❁
كَشَمْلِ أَصْحَابِ كِسْرَى غَيْرَ مُلْتَئِمِ ❁
Wa bâta îwânu Kisrâ wahwa munshadi‘un,
kasyamli ash-hâbi Kisrâ ghaira multa’imi.
61. Istana Kisra pada malam itu retak dan terbelah,
seakan persatuan para pengikut Kisra pun akan tercerai-berai.
وَالنَّارُ خَامِدَةُ الْأَنْفَاسِ مِنْ أَسَفٍ ❁
عَلَيْهِ وَالنَّهْرُ سَاهِي الْعَيْنِ مِنْ سَدَمِ ❁
Wan-nâru khâmidatul-anfâsi min asafin,
‘alaihi wan-nahru sâhil-‘aini min sadami.
62. Api sesembahan mereka padam, seakan kehilangan napas karena kesedihan,
dan sungai pun seakan kehilangan airnya karena duka.
وَسَاءَ سَاوَةَ أَنْ غَاضَتْ بُحَيْرَتُهَا ❁
وَرُدَّ وَارِدُهَا بِالْغَيْظِ حِينَ ظَمِي ❁
Wa sâ’a Sâwata an ghâdhat buhairatuhâ,
wa rudda wâriduhâ bil-ghaizhi hîna zhamî.
63. Penduduk Sawah bersedih karena danaunya mengering,
dan orang yang datang mencari air kembali dengan marah dalam keadaan haus.
كَأَنَّ بِالنَّارِ مَا بِالْمَاءِ مِنْ بَلَلٍ ❁
حُزْنًا وَبِالْمَاءِ مَا بِالنَّارِ مِنْ ضَرَمِ ❁
Ka anna bin-nâri mâ bil-mâ’i min balalin,
huznan wa bil-mâ’i mâ bin-nâri min dharami.
64. Seakan api memperoleh basahnya air karena kesedihan,
dan air memperoleh panasnya api.
وَالْجِنُّ تَهْتِفُ وَالْأَنْوَارُ سَاطِعَةٌ ❁
وَالْحَقُّ يَظْهَرُ مِنْ مَعْنًى وَمِنْ كَلِمِ ❁
Wal-jinnu tahtifu wal-anwâru sâthi‘atun,
wal-haqqu yazhharu min ma‘nan wa min kalimi.
65. Jin-jin berseru, cahaya-cahaya memancar,
dan kebenaran tampak dalam makna maupun kata-kata.
عَمُوا وَصَمُّوا فَإِعْلَانُ الْبَشَائِرِ لَمْ ❁
تُسْمَعْ وَبَارِقَةُ الْإِنْذَارِ لَمْ تُشَمِ ❁
‘Amû wa shammû fa i‘lânul-basyâ’iri lam,
tusma‘ wa bâriqatul-indzâri lam tusyami.
66. Namun mereka buta dan tuli, sehingga kabar gembira yang diumumkan,
tidak mereka dengar dan kilatan peringatan pun tidak mereka perhatikan.
مِنْ بَعْدِ مَا أَخْبَرَ الْأَقْوَامَ كَاهِنُهُمْ ❁
بِأَنَّ دِينَهُمُ الْمُعْوَجَّ لَمْ يَقُمِ ❁
Min ba‘di mâ akhbaral-aqwâma kâhinuhum,
bi anna dînahumul-mu‘wajja lam yaqumi.
67. Padahal sebelumnya para dukun mereka telah memberitahu kaum-kaum itu,
bahwa agama mereka yang bengkok tidak akan lagi tegak.
وَبَعْدَ مَا عَايَنُوا فِي الْأُفْقِ مِنْ شُهُبٍ ❁
مُنْقَضَّةٍ وَفْقَ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ صَنَمِ ❁
Wa ba‘da mâ ‘âyanû fil-ufqi min syuhubin,
munqadhdhatin wafqa mâ fil-ardhi min shanami.
68. Setelah mereka menyaksikan bintang-bintang jatuh di ufuk,
bersamaan dengan berjatuhannya berhala-berhala di bumi.
حَتَّى غَدَا عَنْ طَرِيقِ الْوَحْيِ مُنْهَزِمٌ ❁
مِنَ الشَّيَاطِينِ يَقْفُو إِثْرَ مُنْهَزِمِ ❁
Hattâ ghadâ ‘an tharîqil-wahyi munhazimun,
minasy-syayâthîni yaqfû itsra munhazimi.
69. Hingga setan-setan lari dari jalan wahyu,
satu demi satu mengikuti yang lain dalam pelarian.
كَأَنَّهُمْ هَرَبًا أَبْطَالُ أَبْرَهَةٍ ❁
أَوْ عَسْكَرٌ بِالْحَصَى مِنْ رَاحَتَيْهِ رُمِي ❁
Ka annahum haraban abthâlu Abrahatin,
au ‘askarun bil-hashâ min râhataihi rumî.
70. Seakan mereka yang melarikan diri adalah para pahlawan pasukan Abrahah,
atau pasukan yang dilempari kerikil dari kedua telapak tangan beliau.
نَبْذًا بِهِ بَعْدَ تَسْبِيحٍ بِبَطْنِهِمَا ❁
نَبْذَ الْمُسَبِّحِ مِنْ أَحْشَاءِ مُلْتَقِمِ ❁
Nabdzan bihi ba‘da tasbîhin bi bathnihimâ,
nabdzal-musabbihi min ahsyâ’i multaqimi.
71. Kerikil itu dilemparkan setelah bertasbih di kedua telapak tangan beliau,
seperti Yunus yang bertasbih lalu dilemparkan keluar dari perut ikan.
الْفَصْلُ الْخَامِسُ فِي مُعْجِزَاتِهِ ﷺ
Al-Fashlul-Khâmis: Fî Mu‘jizâtihi

Bab Kelima

Tentang Mukjizat-Mukjizat Nabi ﷺ

جَاءَتْ لِدَعْوَتِهِ الْأَشْجَارُ سَاجِدَةً ❁
تَمْشِي إِلَيْهِ عَلَى سَاقٍ بِلَا قَدَمِ ❁
Jâ’at li da‘watihil-asyjâru sâjidatan,
tamsyî ilaihi ‘alâ sâqin bilâ qadami.
72. Pepohonan datang memenuhi panggilan beliau dalam keadaan bersujud,
berjalan menuju beliau dengan batangnya tanpa kaki.
كَأَنَّمَا سَطَرَتْ سَطْرًا لِمَا كَتَبَتْ ❁
فُرُوعُهَا مِنْ بَدِيعِ الْخَطِّ بِاللَّقَمِ ❁
Ka annamâ satharat sathran limâ katabat,
furû‘uhâ min badî‘il-khaththi bil-laqami.
73. Seakan ranting-rantingnya menorehkan baris-baris,
dengan tulisan indah di sepanjang jalan yang dilaluinya.
مِثْلَ الْغَمَامَةِ أَنَّى سَارَ سَائِرَةً ❁
تَقِيهِ حَرَّ وَطِيسٍ لِلْهَجِيرِ حَمِي ❁
Mitslal-ghamâmati annâ sâra sâ’iratan,
taqîhi harra wathîsin lil-hajîri hamî.
74. Demikian pula awan yang mengikuti ke mana pun beliau berjalan,
melindungi beliau dari teriknya panas tengah hari.
أَقْسَمْتُ بِالْقَمَرِ الْمُنْشَقِّ إِنَّ لَهُ ❁
مِنْ قَلْبِهِ نِسْبَةً مَبْرُورَةَ الْقَسَمِ ❁
Aqsamtu bil-qamaril-munsyaqqi inna lahu,
min qalbihi nisbatam mabrûratal-qasami.
75. Aku bersumpah demi bulan yang terbelah bahwa ia memiliki,
hubungan dengan hati beliau yang membenarkan sumpahku.
وَمَا حَوَى الْغَارُ مِنْ خَيْرٍ وَمِنْ كَرَمٍ ❁
وَكُلُّ طَرْفٍ مِنَ الْكُفَّارِ عَنْهُ عَمِي ❁
Wa mâ hawal-ghâru min khairin wa min karamin,
wa kullu tharfin minal-kuffâri ‘anhu ‘amî.
76. Betapa banyak kebaikan dan kemuliaan yang dihimpun oleh gua,
sementara setiap pandangan orang kafir dibutakan darinya.
فَالصِّدْقُ فِي الْغَارِ وَالصِّدِّيقُ لَمْ يَرِمَا ❁
وَهُمْ يَقُولُونَ مَا بِالْغَارِ مِنْ أَرِمِ ❁
Fash-shidqu fil-ghâri wash-shiddîqu lam yarimâ,
wa hum yaqûlûna mâ bil-ghâri min arimi.
77. Sang Kebenaran dan sang Siddiq tetap berada di dalam gua,
sementara mereka berkata, “Tidak ada seorang pun di dalam gua.”
ظَنُّوا الْحَمَامَ وَظَنُّوا الْعَنْكَبُوتَ عَلَى ❁
خَيْرِ الْبَرِيَّةِ لَمْ تَنْسُجْ وَلَمْ تَحُمِ ❁
Zhannul-hamâma wa zhannul-‘ankabûta ‘alâ,
khairil-bariyyati lam tansuj wa lam tahumi.
78. Mereka menyangka bahwa, di atas sebaik-baik makhluk,
laba-laba tak mungkin menenun jaring dan merpati tak mungkin bersarang.
وِقَايَةُ اللَّهِ أَغْنَتْ عَنْ مُضَاعَفَةٍ ❁
مِنَ الدُّرُوعِ وَعَنْ عَالٍ مِنَ الْأُطُمِ ❁
Wiqâyatullâhi aghnat ‘an mudhâ‘afatin,
minad-durû‘i wa ‘an ‘âlin minal-uthumi.
79. Perlindungan Allah membuat beliau tidak membutuhkan,
baju-baju zirah berlapis maupun benteng-benteng tinggi.
مَا سَامَنِي الدَّهْرُ ضَيْمًا وَاسْتَجَرْتُ بِهِ ❁
إِلَّا وَنِلْتُ جِوَارًا مِنْهُ لَمْ يُضَمِ ❁
Mâ sâmanid-dahru dhaiman wastajartu bihi,
illâ wa niltu jiwâran minhu lam yudhami.
80. Tidaklah zaman menimpakan kezaliman kepadaku lalu aku berlindung kepada beliau,
melainkan aku memperoleh perlindungan yang tidak dapat dizalimi.
وَلَا الْتَمَسْتُ غِنَى الدَّارَيْنِ مِنْ يَدِهِ ❁
إِلَّا اسْتَلَمْتُ النَّدَى مِنْ خَيْرِ مُسْتَلَمِ ❁
Wa laltamastu ghinad-dâraini min yadihi,
illastalamtun-nadâ min khairi mustalami.
81. Tidak pernah pula aku memohon kekayaan dua alam dari tangan beliau,
melainkan aku memperoleh pemberian dari sebaik-baik pemberi.
لَا تُنْكِرِ الْوَحْيَ مِنْ رُؤْيَاهُ إِنَّ لَهُ ❁
قَلْبًا إِذَا نَامَتِ الْعَيْنَانِ لَمْ يَنَمِ ❁
Lâ tunkiril-wahya min ru’yâhu inna lahu,
qalban idzâ nâmatil-‘ainâni lam yanami.
82. Jangan mengingkari wahyu yang beliau terima melalui mimpi, karena beliau memiliki hati,
yang tidak pernah tidur meskipun kedua matanya terpejam.
وَذَاكَ حِينَ بُلُوغٍ مِنْ نُبُوَّتِهِ ❁
فَلَيْسَ يُنْكَرُ فِيهِ حَالُ مُحْتَلِمِ ❁
Wa dzâka hîna bulûghin min nubuwwatihi,
falaisa yunkaru fîhi hâlu muhtalimi.
83. Dan hal itu terjadi pada awal kenabian beliau,
maka wahyu yang beliau terima dalam mimpi tidak patut diingkari.
تَبَارَكَ اللَّهُ مَا وَحْيٌ بِمُكْتَسَبٍ ❁
وَلَا نَبِيٌّ عَلَى غَيْبٍ بِمُتَّهَمِ ❁
Tabârakallâhu mâ wahyun bi muktasabin,
wa lâ nabiyyun ‘alâ ghaibin bi muttahami.
84. Mahasuci Allah! Wahyu bukan sesuatu yang diperoleh melalui usaha,
dan seorang nabi tidak dapat dituduh mengenai perkara gaib.
كَمْ أَبْرَأَتْ وَصِبًا بِاللَّمْسِ رَاحَتُهُ ❁
وَأَطْلَقَتْ أَرِبًا مِنْ رِبْقَةِ اللَّمَمِ ❁
Kam abra’at washiban bil-lamsi râhatuhu,
wa athlaqat ariban min ribqatil-lamami.
85. Betapa banyak orang sakit yang disembuhkan oleh sentuhan telapak tangan beliau,
dan betapa banyak orang yang beliau bebaskan dari belenggu kegilaan.
وَأَحْيَتِ السَّنَةَ الشَّهْبَاءَ دَعْوَتُهُ ❁
حَتَّى حَكَتْ غُرَّةً فِي الْأَعْصُرِ الدُّهُمِ ❁
Wa ahyatis-sanatasy-syahbâ’a da‘watuhu,
hattâ hakat ghurratan fil-a‘shurid-duhumi.
86. Doa beliau menghidupkan tahun kekeringan yang tandus,
hingga tampak laksana cahaya putih di antara tahun-tahun yang gelap.
بِعَارِضٍ جَادَ أَوْ خِلْتَ الْبِطَاحَ بِهَا ❁
سَيْبٌ مِنَ الْيَمِّ أَوْ سَيْلٌ مِنَ الْعَرِمِ ❁
Bi ‘âridhin jâda au khilta al-bithâha bihâ,
saibun minal-yammi au sailun minal-‘Arimi.
87. Dengan awan yang mencurahkan hujan begitu deras hingga engkau menyangka,
lembah-lembah dialiri lautan atau diterjang banjir ‘Arim.
الْفَصْلُ السَّادِسُ فِي شَرَفِ الْقُرْآنِ وَمَدْحِهِ
Al-Fashlus-Sâdis: Fî Syarafil-Qur’âni wa Madhihi

Bab Keenam

Tentang Kemuliaan dan Pujian terhadap Al-Qur'an

دَعْنِي وَوَصْفِيَ آيَاتٍ لَهُ ظَهَرَتْ ❁
ظُهُورَ نَارِ الْقِرَى لَيْلًا عَلَى عَلَمِ ❁
Da‘nî wa washfiya âyâtin lahu zhaharat,
zhuhûra nâril-qirâ lailan ‘alâ ‘alami.
88. Biarkan aku menggambarkan ayat-ayat beliau yang telah tampak,
laksana api jamuan yang terlihat pada malam hari di atas tempat yang tinggi.
فَالدُّرُّ يَزْدَادُ حُسْنًا وَهْوَ مُنْتَظِمٌ ❁
وَلَيْسَ يَنْقُصُ قَدْرًا غَيْرَ مُنْتَظِمِ ❁
Fad-durru yazdâdu husnan wahwa muntazhimun,
wa laisa yanqushu qadran ghaira muntazhimi.
89. Mutiara bertambah indah ketika tersusun dalam untaian,
namun nilainya tidak berkurang meskipun tidak dirangkai.
فَمَا تَطَاوُلُ آمَالِ الْمَدِيحِ إِلَى ❁
مَا فِيهِ مِنْ كَرَمِ الْأَخْلَاقِ وَالشِّيَمِ ❁
Famâ tathâwulu âmâlil-madîhi ilâ,
mâ fîhi min karamil-akhlâqi wasy-syiyami.
90. Lalu bagaimana mungkin harapan seorang pemuji mampu mencapai,
kemuliaan akhlak dan sifat-sifat luhur beliau?
آيَاتُ حَقٍّ مِنَ الرَّحْمَنِ مُحْدَثَةٌ ❁
قَدِيمَةٌ صِفَةُ الْمَوْصُوفِ بِالْقِدَمِ ❁
Âyâtu haqqin minar-Rahmâni muhdatsatun,
qadîmatun shifatul-maushûfi bil-qidami.
91. Ayat-ayat kebenaran dari Ar-Rahman itu baru dalam lafaznya,
namun qadim sebagai sifat Dzat Yang Mahadahulu.
لَمْ تَقْتَرِنْ بِزَمَانٍ وَهْيَ تُخْبِرُنَا ❁
عَنِ الْمَعَادِ وَعَنْ عَادٍ وَعَنْ إِرَمِ ❁
Lam taqtarin bi zamânin wahya tukhbirunâ,
‘anil-ma‘âdi wa ‘an ‘Âdin wa ‘an Irami.
92. Ia tidak terikat oleh waktu, meskipun mengabarkan kepada kita,
tentang Hari Kebangkitan, kaum ‘Ad, dan Iram.
دَامَتْ لَدَيْنَا فَفَاقَتْ كُلَّ مُعْجِزَةٍ ❁
مِنَ النَّبِيِّينَ إِذْ جَاءَتْ وَلَمْ تَدُمِ ❁
Dâmat ladainâ fafâqat kulla mu‘jizatin,
minan-nabiyyîna idz jâ’at wa lam tadumi.
93. Ayat-ayat itu kekal bersama kita sehingga mengungguli setiap mukjizat,
para nabi terdahulu, yang datang lalu tidak kekal.
مُحَكَّمَاتٌ فَمَا يُبْقِينَ مِنْ شُبَهٍ ❁
لِذِي شِقَاقٍ وَمَا يَبْغِينَ مِنْ حَكَمِ ❁
Muhakkamâtun famâ yubqîna min syubahin,
li dzî syiqâqin wa mâ yabghîna min hakami.
94. Ayat-ayat itu begitu kokoh sehingga tidak menyisakan keraguan,
bagi orang yang membantah dan tidak membutuhkan hakim.
مَا حُورِبَتْ قَطُّ إِلَّا عَادَ مِنْ حَرَبٍ ❁
أَعْدَى الْأَعَادِي إِلَيْهَا مُلْقِيَ السَّلَمِ ❁
Mâ hûribat qaththu illâ ‘âda min harabin,
a‘dal-a‘âdî ilaihâ mulqiyas-salami.
95. Tidak pernah ayat-ayat itu ditentang kecuali musuh yang paling keras,
akhirnya mundur dan menyerah kepadanya.
رَدَّتْ بَلَاغَتُهَا دَعْوَى مُعَارِضِهَا ❁
رَدَّ الْغَيُورِ يَدَ الْجَانِي عَنِ الْحُرَمِ ❁
Raddat balâghatuhâ da‘wâ mu‘âridhihâ,
raddal-ghayûri yadal-jânî ‘anil-hurami.
96. Keindahan bahasanya menolak klaim orang yang menandinginya,
seperti lelaki yang menjaga kehormatan melindungi kaum wanitanya dari tangan orang yang hendak menodai mereka.
لَهَا مَعَانٍ كَمَوْجِ الْبَحْرِ فِي مَدَدٍ ❁
وَفَوْقَ جَوْهَرِهِ فِي الْحُسْنِ وَالْقِيَمِ ❁
Lahâ ma‘ânin ka maujil-bahri fî madadin,
wa fauqa jauharihi fil-husni wal-qiyami.
97. Makna-maknanya laksana gelombang lautan dalam keluasannya,
bahkan melebihi mutiaranya dalam keindahan dan nilainya.
فَمَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى عَجَائِبُهَا ❁
وَلَا تُسَامُ عَلَى الْإِكْثَارِ بِالسَّأَمِ ❁
Famâ tu‘addu wa lâ tuhshâ ‘ajâ’ibuhâ,
wa lâ tusâmu ‘alal-iktsâri bis-sa’ami.
98. Keajaibannya tidak dapat dihitung maupun dibatasi,
dan betapa pun sering diulang, tidak pernah menimbulkan kebosanan.
قَرَّتْ بِهَا عَيْنُ قَارِيهَا فَقُلْتُ لَهُ ❁
لَقَدْ ظَفِرْتَ بِحَبْلِ اللَّهِ فَاعْتَصِمِ ❁
Qarrat bihâ ‘ainu qârîhâ faqultu lahu,
laqad zhafirta bi hablillâhi fa‘tashimi.
99. Mata pembacanya menjadi sejuk karenanya, maka kukatakan kepadanya,
“Engkau telah memperoleh tali Allah, maka berpegang teguhlah kepadanya.”
إِنْ تَتْلُهَا خِيفَةً مِنْ حَرِّ نَارِ لَظَى ❁
أَطْفَأْتَ حَرَّ لَظَى مِنْ وِرْدِهَا الشَّبِمِ ❁
In tatluhâ khîfatan min harri nâri lazhâ,
athfa’ta harra lazhâ min wirdihasy-syabimi.
100. Jika engkau membacanya karena takut terhadap panasnya api Lazha,
engkau akan memadamkan panasnya dengan kesejukan sumbernya.
كَأَنَّهَا الْحَوْضُ تَبْيَضُّ الْوُجُوهُ بِهِ ❁
مِنَ الْعُصَاةِ وَقَدْ جَاؤُوهُ كَالْحُمَمِ ❁
Ka annahal-haudhu tabyadhdhul-wujûhu bihi,
minal-‘ushâti wa qad jâ’ûhu kal-humami.
101. Seakan ia adalah telaga yang memutihkan wajah orang-orang berdosa,
yang datang kepadanya dalam keadaan hitam seperti arang.
وَكَالصِّرَاطِ وَكَالْمِيزَانِ مَعْدِلَةً ❁
فَالْقِسْطُ مِنْ غَيْرِهَا فِي النَّاسِ لَمْ يَقُمِ ❁
Wa kash-shirâthi wa kal-mîzâni ma‘dilatan,
fal-qisthu min ghairihâ fin-nâsi lam yaqumi.
102. Ia laksana shirath dan mizan dalam menegakkan keadilan,
karena keadilan di antara manusia tidak akan tegak tanpanya.
لَا تَعْجَبَنْ لِحَسُودٍ رَاحَ يُنْكِرُهَا ❁
تَجَاهُلًا وَهْوَ عَيْنُ الْحَاذِقِ الْفَهِمِ ❁
Lâ ta‘jaban li hasûdin râha yunkiruhâ,
tajâhulan wahwa ‘ainul-hâdziqil-fahimi.
103. Jangan heran terhadap orang dengki yang sengaja mengingkarinya,
meskipun sebenarnya ia cerdas dan memahami.
قَدْ تُنْكِرُ الْعَيْنُ ضَوْءَ الشَّمْسِ مِنْ رَمَدٍ ❁
وَيُنْكِرُ الْفَمُ طَعْمَ الْمَاءِ مِنْ سَقَمِ ❁
Qad tunkirul-‘ainu dhau’asy-syamsi min ramadin,
wa yunkirul-famu tha‘mal-mâ’i min saqami.
104. Mata yang sakit dapat mengingkari cahaya matahari,
dan mulut yang sakit dapat mengingkari rasa air.
الْفَصْلُ السَّابِعُ فِي إِسْرَائِهِ وَمِعْرَاجِهِ ﷺ
Al-Fashlus-Sâbi‘: Fî Isrâ’ihi wa Mi‘râjihi

Bab Ketujuh

Tentang Isra dan Mi'raj Nabi ﷺ

يَا خَيْرَ مَنْ يَمَّمَ الْعَافُونَ سَاحَتَهُ ❁
سَعْيًا وَفَوْقَ مُتُونِ الْأَيْنُقِ الرُّسُمِ ❁
Yâ khaira man yammamal-‘âfûna sâhatahu,
sa‘yan wa fauqa mutûnil-ainuqir-rusumi.
105. Wahai sebaik-baik insan yang halaman kediamannya dituju oleh para pencari,
dengan berjalan kaki maupun di atas punggung unta yang tangkas.
وَمَنْ هُوَ الْآيَةُ الْكُبْرَى لِمُعْتَبِرٍ ❁
وَمَنْ هُوَ النِّعْمَةُ الْعُظْمَى لِمُغْتَنِمِ ❁
Wa man huwal-âyatul-kubrâ li mu‘tabirin,
wa man huwan-ni‘matul-‘uzhmâ li mughtanimi.
106. Wahai engkau yang menjadi tanda terbesar bagi orang yang mengambil pelajaran,
dan nikmat teragung bagi orang yang meraih keuntungan.
سَرَيْتَ مِنْ حَرَمٍ لَيْلًا إِلَى حَرَمٍ ❁
كَمَا سَرَى الْبَدْرُ فِي دَاجٍ مِنَ الظُّلَمِ ❁
Saraita min haramin lailan ilâ haramin,
kamâ saral-badru fî dâjin minazh-zhulami.
107. Engkau berjalan pada malam hari dari satu tanah suci menuju tanah suci lainnya,
sebagaimana bulan purnama berjalan menembus malam yang gelap gulita.
وَبِتَّ تَرْقَى إِلَى أَنْ نِلْتَ مَنْزِلَةً ❁
مِنْ قَابِ قَوْسَيْنِ لَمْ تُدْرَكْ وَلَمْ تُرَمِ ❁
Wa bitta tarqâ ilâ an nilta manzilatan,
min qâbi qausaini lam tudrak wa lam turami.
108. Engkau terus naik hingga mencapai suatu kedudukan,
sejarak dua busur, yang tidak pernah dicapai dan tidak pernah diharapkan oleh selainmu.
وَقَدَّمَتْكَ جَمِيعُ الْأَنْبِيَاءِ بِهَا ❁
وَالرُّسْلِ تَقْدِيمَ مَخْدُومٍ عَلَى خَدَمِ ❁
Wa qaddamatka jamî‘ul-anbiyâ’i bihâ,
war-rusli taqdîma makhdûmin ‘alâ khadami.
109. Seluruh nabi dan rasul mendahulukanmu,
sebagaimana seorang tuan didahulukan atas para pelayannya.
وَأَنْتَ تَخْتَرِقُ السَّبْعَ الطِّبَاقَ بِهِمْ ❁
فِي مَوْكِبٍ كُنْتَ فِيهِ صَاحِبَ الْعَلَمِ ❁
Wa anta takhtariqus-sab‘ath-thibâqa bihim,
fî maukibin kunta fîhi shâhibal-‘alami.
110. Engkau menembus tujuh lapis langit bersama mereka,
dalam sebuah rombongan yang engkau menjadi pemegang panjinya.
حَتَّى إِذَا لَمْ تَدَعْ شَأْوًا لِمُسْتَبِقٍ ❁
مِنَ الدُّنُوِّ وَلَا مَرْقًى لِمُسْتَنِمِ ❁
Hattâ idzâ lam tada‘ sya’wan li mustabiqin,
minad-dunuwwi wa lâ marqan li mustanimi.
111. Hingga tidak tersisa lagi tempat kedekatan bagi siapa pun yang hendak mendahului,
dan tidak ada lagi tangga ketinggian bagi siapa pun yang hendak menaikinya.
خَفَضْتَ كُلَّ مَقَامٍ بِالْإِضَافَةِ إِذْ ❁
نُودِيتَ بِالرَّفْعِ مِثْلَ الْمُفْرَدِ الْعَلَمِ ❁
Khafadhta kulla maqâmin bil-idhâfati idz,
nûdîta bir-raf‘i mitslal-mufradil-‘alami.
112. Engkau merendahkan setiap kedudukan dibandingkan kedudukanmu ketika,
engkau dipanggil dengan kemuliaan seperti sebuah nama diri yang dimarfu'kan.
كَيْمَا تَفُوزَ بِوَصْلٍ أَيِّ مُسْتَتِرٍ ❁
عَنِ الْعُيُونِ وَسِرٍّ أَيِّ مُكْتَتَمِ ❁
Kaimâ tafûza bi washlin aiyyi mustatirin,
‘anil-‘uyûni wa sirrin aiyyi muktatami.
113. Agar engkau memperoleh pertemuan yang amat tersembunyi dari segala pandangan,
dan meraih rahasia yang paling tersembunyi.
فَحُزْتَ كُلَّ فَخَارٍ غَيْرَ مُشْتَرَكٍ ❁
وَجُزْتَ كُلَّ مَقَامٍ غَيْرَ مُزْدَحَمِ ❁
Fahuzta kulla fakhârin ghaira musytarakin,
wa juzta kulla maqâmin ghaira muzdahami.
114. Engkau meraih setiap kemuliaan tanpa seorang pun menyekutuimu,
dan melampaui setiap kedudukan tanpa seorang pun menyaingimu.
وَجَلَّ مِقْدَارُ مَا وُلِّيتَ مِنْ رُتَبٍ ❁
وَعَزَّ إِدْرَاكُ مَا أُولِيتَ مِنْ نِعَمِ ❁
Wa jalla miqdâru mâ wullîta min rutabin,
wa ‘azza idrâku mâ ûlîta min ni‘ami.
115. Betapa agung tingkatan-tingkatan yang dianugerahkan kepadamu,
dan betapa sulit memahami segala nikmat yang diberikan kepadamu.
بُشْرَى لَنَا مَعْشَرَ الْإِسْلَامِ إِنَّ لَنَا ❁
مِنَ الْعِنَايَةِ رُكْنًا غَيْرَ مُنْهَدِمِ ❁
Busyrâ lanâ ma‘syaral-Islâmi inna lanâ,
minal-‘inâyati ruknan ghaira munhadimi.
116. Kabar gembira bagi kita, wahai kaum Muslimin, karena sesungguhnya kita memiliki,
tiang pertolongan Allah yang tidak akan pernah runtuh.
لَمَّا دَعَا اللَّهُ دَاعِينَا لِطَاعَتِهِ ❁
بِأَكْرَمِ الرُّسْلِ كُنَّا أَكْرَمَ الْأُمَمِ ❁
Lammâ da‘allâhu dâ‘înâ li thâ‘atihi,
bi akramir-rusli kunnâ akramal-umami.
117. Ketika Allah menyebut penyeru kita kepada ketaatan-Nya
sebagai rasul yang paling mulia, kita pun menjadi umat yang paling mulia.
الْفَصْلُ الثَّامِنُ فِي جِهَادِ النَّبِيِّ ﷺ
Al-Fashluts-Tsâmin: Fî Jihâdin-Nabiyyi

Bab Kedelapan

Tentang Jihad Nabi ﷺ

رَاعَتْ قُلُوبَ الْعِدَا أَنْبَاءُ بِعْثَتِهِ ❁
كَنَبْأَةٍ أَجْفَلَتْ غُفْلًا مِنَ الْغَنَمِ ❁
Râ‘at qulûbal-‘idâ anbâ’u bi‘tsatihi,
kanab’atin ajfalat ghuflan minal-ghanami.
118. Berita tentang diutusnya beliau mengguncangkan hati musuh-musuh,
seperti suara mendadak yang membuat kawanan kambing yang lengah berhamburan.
مَا زَالَ يَلْقَاهُمُ فِي كُلِّ مُعْتَرَكٍ ❁
حَتَّى حَكَوْا بِالْقَنَا لَحْمًا عَلَى وَضَمِ ❁
Mâ zâla yalqâhumu fî kulli mu‘tarakin,
hattâ hakau bil-qanâ lahman ‘alâ wadhami.
119. Beliau terus menghadapi mereka dalam setiap medan pertempuran,
hingga tombak-tombak menjadikan mereka laksana daging di atas tempat pemotongan.
وَدُّوا الْفِرَارَ فَكَادُوا يَغْبِطُونَ بِهِ ❁
أَشْلَاءَ شَالَتْ مَعَ الْعِقْبَانِ وَالرَّخَمِ ❁
Waddul-firâra fakâdû yaghbithûna bihi,
asy-lâ’a syâlat ma‘al-‘iqbâni war-rakhami.
120. Mereka berharap dapat melarikan diri, hingga hampir saja mereka iri,
kepada potongan tubuh yang dibawa elang dan burung nasar.
تَمْضِي اللَّيَالِي وَلَا يَدْرُونَ عِدَّتَهَا ❁
مَا لَمْ تَكُنْ مِنْ لَيَالِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ ❁
Tamdhil-layâlî wa lâ yadrûna ‘iddatahâ,
mâ lam takun min layâlil-asyhuril-hurumi.
121. Malam-malam berlalu dan mereka tidak mengetahui jumlahnya,
kecuali malam-malam yang termasuk dalam bulan-bulan suci.
كَأَنَّمَا الدِّينُ ضَيْفٌ حَلَّ سَاحَتَهُمْ ❁
بِكُلِّ قَرْمٍ إِلَى لَحْمِ الْعِدَا قَرِمِ ❁
Ka annamad-dînu dhaifun halla sâhatahum,
bi kulli qarmin ilâ lahmil-‘idâ qarimi.
122. Seakan agama Islam adalah tamu yang singgah di halaman mereka,
bersama setiap pahlawan yang sangat berhasrat menghadapi daging musuh.
يَجُرُّ بَحْرَ خَمِيسٍ فَوْقَ سَابِحَةٍ ❁
يَرْمِي بِمَوْجٍ مِنَ الْأَبْطَالِ مُلْتَطِمِ ❁
Yajurru bahra khamîsin fauqa sâbihatin,
yarmî bi maujin minal-abthâli multathimi.
123. Beliau memimpin lautan pasukan yang besar di atas kuda-kuda yang tangkas,
yang melemparkan gelombang demi gelombang para pahlawan yang saling berdesakan.
مِنْ كُلِّ مُنْتَدِبٍ لِلَّهِ مُحْتَسِبٍ ❁
يَسْطُو بِمُسْتَأْصِلٍ لِلْكُفْرِ مُصْطَلِمِ ❁
Min kulli muntadibin lillâhi muhtasibin,
yasthû bi musta’shilin lil-kufri mushthalimi.
124. Masing-masing keluar demi Allah dan mengharapkan pahala-Nya,
menyerang dengan senjata yang mencabut kekufuran hingga ke akar-akarnya.
حَتَّى غَدَتْ مِلَّةُ الْإِسْلَامِ وَهْيَ بِهِمْ ❁
مِنْ بَعْدِ غُرْبَتِهَا مَوْصُولَةَ الرَّحِمِ ❁
Hattâ ghadat millatul-Islâmi wahya bihim,
min ba‘di ghurbatihâ maushûlatar-rahimi.
125. Hingga agama Islam, berkat mereka,
setelah keterasingannya kembali tersambung dengan keluarganya.
مَكْفُولَةً أَبَدًا مِنْهُمْ بِخَيْرِ أَبٍ ❁
وَخَيْرِ بَعْلٍ فَلَمْ تَيْتَمْ وَلَمْ تَئِمِ ❁
Makfûlatan abadan minhum bi khairi abin,
wa khairi ba‘lin falam taitam wa lam ta’imi.
126. Selamanya ia berada dalam perlindungan mereka, di bawah penjagaan sebaik-baik ayah,
dan sebaik-baik suami, sehingga ia tidak menjadi yatim ataupun janda.
هُمُ الْجِبَالُ فَسَلْ عَنْهُمْ مُصَادِمَهُمْ ❁
مَاذَا رَأَى مِنْهُمُ فِي كُلِّ مُصْطَدَمِ ❁
Humul-jibâlu fasal ‘anhum mushâdimahum,
mâ dzâ ra’â minhumu fî kulli mushthadami.
127. Mereka laksana gunung-gunung, maka tanyakanlah kepada orang yang pernah menghadapi mereka,
apa yang mereka saksikan dalam setiap pertempuran.
وَسَلْ حُنَيْنًا وَسَلْ بَدْرًا وَسَلْ أُحُدًا ❁
فُصُولَ حَتْفٍ لَهُمْ أَدْهَى مِنَ الْوَخَمِ ❁
Wa sal Hunainan wa sal Badran wa sal Uhudan,
fushûla hatfin lahum ad-hâ minal-wakhami.
128. Tanyakanlah kepada Hunain, Badar, dan Uhud,
semuanya merupakan medan kematian bagi musuh yang lebih dahsyat daripada penyakit mematikan.
الْمُصْدِرِي الْبِيضِ حُمْرًا بَعْدَ مَا وَرَدَتْ ❁
مِنَ الْعِدَا كُلَّ مُسْوَدٍّ مِنَ اللِّمَمِ ❁
Al-mushdiril-bîdhi humran ba‘da mâ waradat,
min al-‘idâ kulla muswaddin minal-limami.
129. Mereka mengembalikan pedang-pedang putih dalam keadaan merah,
setelah menancapkannya pada kepala musuh yang berambut hitam.
وَالْكَاتِبِينَ بِسُمْرِ الْخَطِّ مَا تَرَكَتْ ❁
أَقْلَامُهُمْ حَرْفَ جِسْمٍ غَيْرَ مُنْعَجِمِ ❁
Wal-kâtibîna bi sumril-khaththi mâ tarakat,
aqlâmuhum harfa jismin ghaira mun‘ajimi.
130. Mereka menulis dengan tombak-tombak cokelat, hingga pena-pena mereka,
tidak meninggalkan satu huruf pun dari tubuh musuh tanpa titik.
شَاكِي السِّلَاحِ لَهُمْ سِيمَا تُمَيِّزُهُمْ ❁
وَالْوَرْدُ يَمْتَازُ بِالسِّيمَا عَنِ السَّلَمِ ❁
Syâkis-silâhi lahum sîmâ tumayyizuhum,
wal-wardu yamtâzu bis-sîmâ ‘anis-salami.
131. Mereka bersenjata lengkap dan memiliki tanda yang membedakan mereka,
sebagaimana mawar dibedakan dari pohon berduri melalui cirinya.
تُهْدِي إِلَيْكَ رِيَاحُ النَّصْرِ نَشْرَهُمُ ❁
فَتَحْسَبُ الزَّهْرَ فِي الْأَكْمَامِ كُلَّ كَمِي ❁
Tuhdî ilaika riyâhun-nashri nasyrahumu,
fatahsabuz-zahra fil-akmâmi kulla kamî.
132. Angin kemenangan membawa kepadamu semerbak harum mereka,
hingga engkau mengira setiap pahlawan adalah bunga di dalam kelopaknya.
كَأَنَّهُمْ فِي ظُهُورِ الْخَيْلِ نَبْتُ رُبًا ❁
مِنْ شِدَّةِ الْحَزْمِ لَا مِنْ شَدَّةِ الْحُزُمِ ❁
Ka annahum fî zhuhûril-khaili nabtu ruban,
min syiddatil-hazmi lâ min syaddatil-huzumi.
133. Di atas punggung kuda mereka tampak laksana tumbuhan di bukit-bukit,
karena kokohnya tekad mereka, bukan karena kuatnya ikatan pelana.
طَارَتْ قُلُوبُ الْعِدَا مِنْ بَأْسِهِمْ فَرَقًا ❁
فَمَا تُفَرِّقُ بَيْنَ الْبَهْمِ وَالْبُهَمِ ❁
Thârat qulûbul-‘idâ min ba’sihim faraqan,
famâ tufarriqu bainal-bahmi wal-buhami.
134. Hati musuh beterbangan karena takut terhadap kedahsyatan mereka,
hingga tidak dapat membedakan anak domba dari para pemberani.
وَمَنْ تَكُنْ بِرَسُولِ اللَّهِ نُصْرَتُهُ ❁
إِنْ تَلْقَهُ الْأُسْدُ فِي آجَامِهَا تَجِمِ ❁
Wa man takun bi Rasûlillâhi nushratuhu,
in talqahul-usdu fî âjâmihâ tajimi.
135. Barang siapa memperoleh pertolongan melalui Rasulullah,
bahkan singa di rimbanya akan gentar ketika bertemu dengannya.
وَلَنْ تَرَى مِنْ وَلِيٍّ غَيْرَ مُنْتَصِرٍ ❁
بِهِ وَلَا مِنْ عَدُوٍّ غَيْرَ مُنْقَصِمِ ❁
Wa lan tarâ min waliyyin ghaira muntashirin,
bihi wa lâ min ‘aduwwin ghaira munqashimi.
136. Engkau tidak akan melihat seorang kekasih beliau kecuali memperoleh kemenangan melalui beliau,
dan tidak pula seorang musuh kecuali telah hancur.
أَحَلَّ أُمَّتَهُ فِي حِرْزِ مِلَّتِهِ ❁
كَاللَّيْثِ حَلَّ مَعَ الْأَشْبَالِ فِي أَجَمِ ❁
Ahalla ummatahu fî hirzi millatihi,
kal-laitsi halla ma‘al-asybâli fî ajami.
137. Beliau menempatkan umatnya dalam benteng agamanya yang kokoh,
seperti singa yang tinggal bersama anak-anaknya di rimba.
كَمْ جَدَّلَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ مِنْ جَدِلٍ ❁
فِيهِ وَكَمْ خَصَمَ الْبُرْهَانُ مِنْ خَصِمِ ❁
Kam jaddalat kalimâtullâhi min jadilin,
fîhi wa kam khashamal-burhânu min khashimi.
138. Betapa banyak pendebat yang dikalahkan oleh firman Allah mengenai beliau,
dan betapa banyak lawan yang dibungkam oleh bukti.
كَفَاكَ بِالْعِلْمِ فِي الْأُمِّيِّ مُعْجِزَةً ❁
فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَالتَّأْدِيبِ فِي الْيُتُمِ ❁
Kafâka bil-‘ilmi fil-ummiyyi mu‘jizatan,
fil-jâhiliyyati wat-ta’dîbi fil-yutumi.
139. Cukuplah sebagai mukjizat ilmu beliau yang ummi
di tengah zaman Jahiliah, serta keluhuran adab beliau yang tumbuh sebagai yatim.
الْفَصْلُ التَّاسِعُ فِي تَوَسُّلٍ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ
Al-Fashlut-Tâsi‘: Fî Tawassulin bi Rasûlillâhi

Bab Kesembilan

Tentang Bertawassul melalui Rasulullah ﷺ

خَدَمْتُهُ بِمَدِيحٍ أَسْتَقِيلُ بِهِ ❁
ذُنُوبَ عُمْرٍ مَضَى فِي الشِّعْرِ وَالْخِدَمِ ❁
Khadamtuhu bi madîhin astaqîlu bihi,
dzunûba ‘umrin madhâ fisy-syi‘ri wal-khidami.
140. Aku mengabdi kepada beliau dengan pujian yang dengannya aku memohon pembebasan,
dari dosa-dosa umurku yang berlalu dalam syair dan pengabdian.
إِذْ قَلَّدَانِيَ مَا تُخْشَى عَوَاقِبُهُ ❁
كَأَنَّنِي بِهِمَا هَدْيٌ مِنَ النَّعَمِ ❁
Idz qalladâniya mâ tukhsyâ ‘awâqibuhu,
ka annanî bihimâ hadyun minan-na‘ami.
141. Keduanya telah mengalungkan kepadaku sesuatu yang akibatnya kutakuti,
sehingga seakan karena keduanya aku menjadi hewan kurban yang diberi tanda.
أَطَعْتُ غَيَّ الصِّبَا فِي الْحَالَتَيْنِ وَمَا ❁
حَصَلْتُ إِلَّا عَلَى الْآثَامِ وَالنَّدَمِ ❁
Atha‘tu ghayyash-shibâ fil-hâlataini wa mâ,
hashaltu illâ ‘alal-âtsâmi wan-nadami.
142. Aku mengikuti kesesatan masa muda dalam kedua keadaan itu,
dan tidak memperoleh apa pun selain dosa dan penyesalan.
فَيَا خَسَارَةَ نَفْسٍ فِي تِجَارَتِهَا ❁
لَمْ تَشْتَرِ الدِّينَ بِالدُّنْيَا وَلَمْ تَسُمِ ❁
Fayâ khasârata nafsin fî tijâratihâ,
lam tasytarid-dîna bid-dunyâ wa lam tasumi.
143. Betapa ruginya jiwaku dalam perdagangannya,
ia tidak membeli agama dengan dunia dan tidak pula menawarnya.
وَمَنْ يَبِعْ آجِلًا مِنْهُ بِعَاجِلِهِ ❁
يَبِنْ لَهُ الْغَبْنُ فِي بَيْعٍ وَفِي سَلَمِ ❁
Wa man yabi‘ âjilan minhu bi ‘âjilihi,
yabin lahul-ghabnu fî bai‘in wa fî salami.
144. Barang siapa menjual akhiratnya demi dunianya,
akan tampak jelas kerugiannya dalam jual beli itu.
إِنْ آتِ ذَنْبًا فَمَا عَهْدِي بِمُنْتَقِضٍ ❁
مِنَ النَّبِيِّ وَلَا حَبْلِي بِمُنْصَرِمِ ❁
In âti dzanban famâ ‘ahdî bi muntaqidhin,
minan-nabiyyi wa lâ hablî bi munsharimi.
145. Jika aku berbuat dosa, perjanjianku tetap utuh
dengan Nabi, dan tali yang menghubungkanku dengan beliau tidak terputus.
فَإِنَّ لِي ذِمَّةً مِنْهُ بِتَسْمِيَتِي ❁
مُحَمَّدًا وَهْوَ أَوْفَى الْخَلْقِ بِالذِّمَمِ ❁
Fa inna lî dzimmatan minhu bi tasmiyatî,
Muhammadan wahwa aufal-khalqi bidz-dzimami.
146. Aku memiliki ikatan dengan beliau karena namaku Muhammad,
dan beliau adalah makhluk yang paling menepati ikatan.
إِنْ لَمْ يَكُنْ فِي مَعَادِي آخِذًا بِيَدِي ❁
فَضْلًا وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ ❁
In lam yakun fî ma‘âdî âkhidzan bi yadî,
fadhlan wa illâ faqul yâ zallatal-qadami.
147. Jika pada Hari Kebangkitan beliau tidak menggenggam tanganku karena kemurahan beliau,
maka katakanlah, “Betapa besarnya ketergelinciran kaki ini.”
حَاشَاهُ أَنْ يَحْرِمَ الرَّاجِي مَكَارِمَهُ ❁
أَوْ يَرْجِعَ الْجَارُ مِنْهُ غَيْرَ مُحْتَرَمِ ❁
Hâsyâhu an yahrimar-râjî makârimahu,
au yarji‘al-jâru minhu ghaira muhtarami.
148. Mustahil beliau menghalangi orang yang berharap dari kemurahan beliau,
atau orang yang berlindung kepada beliau kembali tanpa dihormati.
وَمُنْذُ أَلْزَمْتُ أَفْكَارِي مَدَائِحَهُ ❁
وَجَدْتُهُ لِخَلَاصِي خَيْرَ مُلْتَزِمِ ❁
Wa mundzu alzamtu afkârî madâ’ihahu,
wajadtuhu li khalâshî khaira multazimi.
149. Sejak aku mengabdikan pikiranku untuk memuji beliau,
aku mendapati beliau sebagai sebaik-baik penjamin keselamatanku.
وَلَنْ يَفُوتَ الْغِنَى مِنْهُ يَدًا تَرِبَتْ ❁
إِنَّ الْحَيَا يُنْبِتُ الْأَزْهَارَ فِي الْأَكَمِ ❁
Wa lan yafûtal-ghinâ minhu yadan taribat,
innal-hayâ yunbitul-azhâra fil-akami.
150. Pemberian beliau tidak akan luput dari tangan yang miskin,
karena hujan pun menumbuhkan bunga di atas bukit-bukit tinggi.
وَلَمْ أُرِدْ زَهْرَةَ الدُّنْيَا الَّتِي اقْتَطَفَتْ ❁
يَدَا زُهَيْرٍ بِمَا أَثْنَى عَلَى هَرِمِ ❁
Wa lam urid zahratad-dunyallatîqtathafat,
yadâ Zuhairin bimâ atsnâ ‘alâ Harimi.
151. Aku tidak menginginkan gemerlap dunia,
yang dipetik oleh kedua tangan Zuhair karena memuji Harim.
الْفَصْلُ الْعَاشِرُ فِي الْمُنَاجَاةِ وَعَرْضِ الْحَاجَاتِ
Al-Fashlul-‘Âsyir: Fil-Munâjâti wa ‘Ardhil-Hâjâti

Bab Kesepuluh

Tentang Munajat dan Menyampaikan Segala Hajat

يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَا لِي مَنْ أَلُوذُ بِهِ ❁
سِوَاكَ عِنْدَ حُلُولِ الْحَادِثِ الْعَمِمِ ❁
Yâ akramal-khalqi mâ lî man alûdzu bihi,
siwâka ‘inda hulûlil-hâditsil-‘amimi.
152. Wahai makhluk yang paling mulia, tiada bagiku tempat berlindung,
selain engkau ketika datang kedahsyatan yang meliputi seluruh makhluk.
وَلَنْ يَضِيقَ رَسُولَ اللَّهِ جَاهُكَ بِي ❁
إِذَا الْكَرِيمُ تَجَلَّى بِاسْمِ مُنْتَقِمِ ❁
Wa lan yadhîqa Rasûlallâhi jâhuka bî,
idzal-karîmu tajallâ bismi muntaqimi.
153. Wahai Rasulullah, kedudukanmu yang agung tidak akan menjadi sempit bagiku,
ketika Dzat Yang Mahamulia menampakkan keadilan-Nya dengan nama Al-Muntaqim.
فَإِنَّ مِنْ جُودِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا ❁
وَمِنْ عُلُومِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ ❁
Fa inna min jûdika ad-dunyâ wa dharratahâ,
wa min ‘ulûmika ‘ilmal-lauhi wal-qalami.
154. Sesungguhnya dunia dan akhirat adalah bagian dari kemurahanmu,
dan di antara ilmumu adalah ilmu Lauh dan Qalam.
يَا نَفْسُ لَا تَقْنَطِي مِنْ زَلَّةٍ عَظُمَتْ ❁
إِنَّ الْكَبَائِرَ فِي الْغُفْرَانِ كَاللَّمَمِ ❁
Yâ nafsu lâ taqnathî min zallatin ‘azhumat,
innal-kabâ’ira fil-ghufrâni kal-lamami.
155. Wahai jiwa, jangan berputus asa karena dosa yang besar,
karena dosa-dosa besar di hadapan ampunan Allah laksana dosa-dosa kecil.
لَعَلَّ رَحْمَةَ رَبِّي حِينَ يَقْسِمُهَا ❁
تَأْتِي عَلَى حَسَبِ الْعِصْيَانِ فِي الْقِسَمِ ❁
La‘alla rahmata Rabbî hîna yaqsimuhâ,
ta’tî ‘alâ hasabil-‘ishyâni fil-qisami.
156. Semoga rahmat Tuhanku ketika Dia membagikannya,
datang kepadaku sesuai kadar kemaksiatanku dalam pembagian itu.
يَا رَبِّ وَاجْعَلْ رَجَائِي غَيْرَ مُنْعَكِسٍ ❁
لَدَيْكَ وَاجْعَلْ حِسَابِي غَيْرَ مُنْخَرِمِ ❁
Yâ Rabbi waj‘al rajâ’î ghaira mun‘akisin,
ladaika waj‘al hisâbî ghaira munkharimi.
157. Wahai Tuhanku, jangan jadikan harapanku kepada-Mu berbalik menjadi kekecewaan,
dan jangan jadikan perhitunganku hancur.
وَالْطُفْ بِعَبْدِكَ فِي الدَّارَيْنِ إِنَّ لَهُ ❁
صَبْرًا مَتَى تَدْعُهُ الْأَهْوَالُ يَنْهَزِمِ ❁
Walthuf bi ‘abdika fid-dâraini inna lahu,
shabran matâ tad‘uhul-ahwâlu yanhazimi.
158. Berlaku lembutlah kepada hamba-Mu di dunia dan akhirat, karena sesungguhnya kesabarannya,
akan runtuh ketika berbagai kedahsyatan memanggilnya.
وَأْذَنْ لِسُحْبِ صَلَاةٍ مِنْكَ دَائِمَةٍ ❁
عَلَى النَّبِيِّ بِمُنْهَلٍّ وَمُنْسَجِمِ ❁
Wa’dzan li suhbi shalâtin minka dâ’imatin,
‘alan-nabiyyi bi munhallin wa munsajimi.
159. Izinkanlah awan sholawat dari-Mu yang terus-menerus,
tercurah deras tanpa henti kepada Nabi.
مَا رَنَّحَتْ عَذَبَاتِ الْبَانِ رِيحُ صَبًا ❁
وَأَطْرَبَ الْعِيسَ حَادِي الْعِيسِ بِالنَّغَمِ ❁
Mâ rannahat ‘adzabâtil-bâni rîhu shaban,
wa athrabal-‘îsa hâdil-‘îsi bin-naghami.
160. Selama angin saba masih menggoyangkan ranting-ranting pohon ban,
dan penggembala unta masih melantunkan nyanyian yang menggembirakan untanya.
Tujuh bait berikut bukan bagian dari Qosidah Burdah asli karya Imam al-Busiri, melainkan ditambahkan pada masa kemudian.
ثُمَّ الرِّضَا عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعَنْ عُمَرَ ❁
وَعَنْ عَلِيٍّ وَعَنْ عُثْمَانَ ذِي الْكَرَمِ ❁
Tsummar-ridhâ ‘an Abî Bakrin wa ‘an ‘Umara,
wa ‘an ‘Aliyyin wa ‘an ‘Utsmânadzil-karami.
Kemudian semoga Allah meridhai Abu Bakar dan Umar,
serta Ali dan Utsman, pemilik kemuliaan.
وَالْآلِ وَالصَّحْبِ ثُمَّ التَّابِعِينَ فَهُمْ ❁
أَهْلُ التُّقَى وَالنَّقَى وَالْحِلْمِ وَالْكَرَمِ ❁
Wal-âli wash-shahbi tsumma at-tâbi‘îna fahum,
ahlut-tuqâ wan-naqâ wal-hilmi wal-karami.
Dan keluarga Nabi, para sahabat, kemudian para tabi'in, karena mereka,
adalah orang-orang yang bertakwa, suci, penyantun, dan mulia.
يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا ❁
وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ ❁
Yâ Rabbi bil-Mushthafâ balligh maqâshidanâ,
waghfir lanâ mâ madhâ yâ wâsi‘al-karami.
Wahai Tuhanku, dengan wasilah Al-Mustafa, sampaikanlah kami kepada segala tujuan kami,
dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Dzat Yang Mahaluas kemurahan-Nya.
وَاغْفِرْ إِلَهِي لِكُلِّ الْمُسْلِمِينَ بِمَا ❁
يَتْلُونَ فِي الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى وَفِي الْحَرَمِ ❁
Waghfir ilâhî li kullil-muslimîna bimâ,
yatlûna fil-masjidil-aqshâ wa fil-harami.
Ampunilah, wahai Tuhanku, seluruh kaum Muslimin dengan sebab bacaan,
yang mereka lantunkan di Masjidil Aqsa dan Tanah Haram.
بِجَاهِ مَنْ بَيْتُهُ فِي طَيْبَةٍ حَرَمٌ ❁
وَاسْمُهُ قَسَمٌ مِنْ أَعْظَمِ الْقَسَمِ ❁
Bi jâhi man baituhu fî Thaibatin haramun,
wasmuhu qasamun min a‘zhamil-qasami.
Dengan kedudukan beliau yang rumahnya berada di Thaibah, tempat yang suci,
dan yang namanya merupakan salah satu sumpah yang paling agung.
وَهَذِهِ بُرْدَةُ الْمُخْتَارِ قَدْ خُتِمَتْ ❁
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ فِي بَدْءٍ وَفِي خَتَمِ ❁
Wa hâdzihi Burdatul-Mukhtâri qad khutimat,
wal-hamdu lillâhi fî bad’in wa fî khatami.
Dan inilah Burdah Al-Mukhtar yang telah selesai,
segala puji bagi Allah pada permulaan dan penutupnya.
أَبْيَاتُهَا قَدْ أَتَتْ سِتِّينَ مَعْ مِائَةٍ ❁
فَرِّجْ بِهَا كَرْبَنَا يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ ❁
Abyâtuhâ qad atat sittîna ma‘ mi’atin,
farrij bihâ karbanâ yâ wâsi‘al-karami.
Bait-baitnya berjumlah seratus enam puluh,
maka hilangkanlah segala kesusahan kami dengannya, wahai Dzat Yang Mahaluas kemurahan-Nya.


Dokumentasi Kegiatan Kemah