MTs. Roudlatul Mutaallimin

Dusun Manggarejo, Desa Mancon, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur

MTs. Roudlatul Mutaallimin

Cerdas, Beriman, Berbudi Luhur

MTs. RM Manggarejo

Cerdas, Beriman, Berbudi Luhur

Pembiasaan Pagi

Sholat Dhuha, Tartil Al-Quran

Moto MTs. RM

Cerdas, Beriman, Berbudi Luhur

Tampilkan postingan dengan label Latihan Posting Blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Latihan Posting Blog. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 April 2026

Biografi - As-Suhrawardi al-Maqtul – Ilmuan Teosofis dan Filsuf Cahaya

 

As-Suhrawardi al-Maqtul – Ilmuan Teosofis dan Filsuf Cahaya

Nama lengkap tokoh ini adalah Syihabuddin Yahya bin Habasy bin Amrik As-Suhrawardi. Ia lahir pada tahun 549 H / 1154 M di Suhraward, sebuah daerah di wilayah Jibal, Iran barat laut, dekat kota Zanjan. As-Suhrawardi dikenal sebagai salah satu pemikir besar dalam tradisi filsafat Islam yang berhasil memadukan pemikiran rasional, intuisi spiritual, dan pengalaman mistik.

Ia memiliki banyak gelar kehormatan, di antaranya Shaikh al-Ishraq (Guru Filsafat Iluminasi), Master of Illumination, al-Hakim (Sang Bijaksana), ash-Shahid (Sang Syahid), dan al-Maqtul (yang terbunuh). Julukan As-Suhrawardi al-Maqtul melekat padanya karena ia wafat sebagai syahid setelah dihukum mati akibat pandangan-pandangannya yang dianggap kontroversial oleh sebagian ulama dan penguasa pada zamannya.

Kehidupan dan Perjalanan Intelektual

As-Suhrawardi hidup pada masa pemerintahan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dan putranya, al-Malik az-Zahir. Ia banyak menghabiskan masa hidupnya di kota Aleppo (Halab), Suriah, yang saat itu menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Di kota inilah ia dikenal luas sebagai seorang filsuf, sufi, sekaligus ilmuwan teosofis.

Sejak muda, As-Suhrawardi melakukan perjalanan ilmiah ke berbagai wilayah untuk menuntut ilmu. Ia belajar di Maragha, Azerbaijan, kepada Majd al-Din al-Jili, mendalami filsafat, hukum, dan teologi. Ia juga belajar filsafat kepada Fakhr al-Din al-Mardini. Kemudian ia melanjutkan studinya ke Isfahan, salah satu pusat intelektual terbesar pada masa itu. Di sana, ia mempelajari logika kepada Zahir al-Din al-Qari, serta mendalami karya-karya logika, termasuk Al-Basa'ir al-Nasiriyyah karya Umar ibn Sahlan al-Sawi.

Perjalanannya berlanjut ke Anatolia Tenggara, di mana ia mendapat sambutan baik dari para penguasa Bani Saljuk. Ia juga mengunjungi Persia, yang saat itu menjadi pusat perkembangan tasawuf. Di sana, ketertarikannya pada dunia spiritual semakin mendalam, sehingga ia memadukan filsafat rasional dengan pengalaman mistik.

Filsafat Ishraq: Filsafat Cahaya

Kontribusi terbesar As-Suhrawardi adalah pengembangan Filsafat Ishraq atau Filsafat Iluminasi. Dalam pandangannya, pengetahuan sejati tidak hanya diperoleh melalui akal dan logika, tetapi juga melalui penyinaran batin, intuisi, dan pengalaman spiritual. Menurutnya, cahaya adalah simbol sekaligus hakikat dari seluruh keberadaan.

Ia menjelaskan bahwa Allah adalah "Nur al-Anwar" (Cahaya di atas segala cahaya), sumber dari semua wujud. Seluruh alam semesta memancar dari cahaya Ilahi dalam tingkatan-tingkatan tertentu. Semakin dekat suatu wujud kepada sumber cahaya, semakin sempurna dan mulia keberadaannya.

Pandangan ini menjadikan filsafatnya sebagai jembatan antara filsafat rasional Yunani, khususnya pemikiran Plato dan Ibn Sina, dengan tradisi spiritual Islam.

As-Suhrawardi sebagai Tokoh Teosofis

As-Suhrawardi disebut sebagai ilmuwan teosofis, yaitu pemikir yang menggabungkan filsafat dengan hikmah ketuhanan. Baginya, kebenaran tidak cukup dipahami melalui argumentasi logis semata, tetapi juga harus dialami melalui penyucian jiwa, latihan spiritual, dan kedekatan dengan Allah.

Ia menekankan bahwa seorang pencari ilmu harus menyeimbangkan antara:

  • Akal, untuk memahami realitas secara rasional;
  • Hati, untuk menerima cahaya kebenaran;
  • Amal, untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah.

Karya-Karya Penting

As-Suhrawardi menulis banyak karya dalam bidang filsafat, tasawuf, dan logika. Karya utamanya adalah Hikmat al-Ishraq (Kebijaksanaan Iluminasi), yang menjadi landasan utama mazhab filsafat iluminasi.

Selain itu, ia juga menulis beberapa karya penting lainnya, seperti:

  • Talwihat
  • Muqawamat
  • Mutharahat
  • Hayakil al-Nur
  • Awarif al-Ma'arif (dikaitkan dalam tradisi tasawuf sebagai rujukan latihan spiritual)

Karya-karyanya membahas hubungan antara akal, intuisi, dan cahaya Ilahi dalam pencarian kebenaran.

Tugas : Nisa

Akhir Hayat dan Warisan Pemikiran

Pada usia yang relatif muda, sekitar 36 tahun, As-Suhrawardi wafat di Aleppo pada tahun 587 H / 1191 M. Ia dihukum mati karena ajaran-ajarannya dianggap mengancam otoritas keagamaan dan politik saat itu. Oleh karena itu, ia dikenang dengan gelar ash-Shahid dan al-Maqtul.

Meskipun hidupnya berakhir tragis, pemikirannya terus hidup dan memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan filsafat Islam, terutama di Persia. Mazhab Ishraqiyyah yang didirikannya menjadi salah satu aliran penting dalam tradisi intelektual Islam dan memengaruhi banyak pemikir setelahnya.

Nilai Keteladanan As-Suhrawardi

Dari perjalanan hidup As-Suhrawardi, kita dapat mengambil beberapa pelajaran berharga:

  1. Semangat tinggi dalam menuntut ilmu.
  2. Keberanian dalam menyampaikan kebenaran.
  3. Keseimbangan antara akal dan spiritualitas.
  4. Pentingnya penyucian jiwa dalam mencari hikmah.
  5. Keteguhan dalam mempertahankan keyakinan.

As-Suhrawardi al-Maqtul merupakan teladan ulama dan filsuf yang menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan sejati tidak hanya menerangi pikiran, tetapi juga menerangi hati dan jiwa manusia.

Biografi - Al-Bushiri – Sastrawan Penulis Qasidah Burdah

 TUGAS : Ilmi Fanatik

Biografi - Al-Bushiri – Sastrawan Penulis Qasidah Burdah

Nama lengkapnya adalah Syarafuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Sa‘id Al-Bushiri, atau lebih dikenal sebagai Al-Bushiri. Ia lahir pada tahun 608 H / 1212 M di daerah Dalasah, Mesir, dan wafat sekitar tahun 696 H / 1297 M.

Al-Bushiri dikenal sebagai seorang penyair sufi, sastrawan besar, serta pecinta Nabi Muhammad. Julukan “Al-Bushiri” diambil dari nama daerah asal keluarganya, yaitu Bushir, sebuah wilayah di Mesir Hulu.

Ia hidup pada masa akhir Dinasti Ayyubiyah hingga awal pemerintahan Dinasti Mamluk, yaitu masa ketika semangat keagamaan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW berkembang pesat di tengah masyarakat Muslim.

Sejak kecil, Al-Bushiri telah dikenal cerdas dan gemar mempelajari bahasa Arab, sastra, serta Al-Qur’an. Ia menimba ilmu kepada para ulama besar di Mesir dan memiliki hubungan erat dengan kalangan sufi, terutama dengan Abu al-Hasan asy-Syadzili, pendiri Tarekat Syadziliyah.

Selain sebagai sastrawan, Al-Bushiri juga pernah bekerja sebagai penulis dan juru administrasi di pemerintahan. Namun, minat utamanya tetap pada dunia sastra dan tasawuf. Puisi-puisi karyanya sarat dengan nilai keimanan, cinta kepada Rasulullah SAW, serta ajakan untuk memperbaiki akhlak.

Karya Terkenal: Qasidah Burdah

Karya yang membuat nama Al-Bushiri terkenal sepanjang masa adalah Qasidah al-Burdah (Puisi Jubah). Qasidah ini berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW, ungkapan cinta yang mendalam, serta nasihat spiritual bagi umat Islam.

Menurut riwayat, Al-Bushiri pernah mengalami sakit lumpuh. Dalam keadaan tersebut, ia menggubah Qasidah Burdah dengan penuh keikhlasan. Setelah itu, ia bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW yang menyelimutinya dengan jubah (burdah). Ketika terbangun, ia pun sembuh dari penyakitnya. Peristiwa inilah yang membuat qasidah tersebut dinamakan “Burdah” (jubah).

Pengaruh dan Warisan

Qasidah Burdah menjadi salah satu karya sastra Islam paling terkenal di dunia. Hingga kini, puisi ini sering dibacakan dalam berbagai acara keagamaan seperti maulid Nabi, pengajian, dan majelis zikir di berbagai negara Muslim.

Al-Bushiri dikenang sebagai sastrawan besar yang berhasil menggabungkan keindahan bahasa dengan kedalaman spiritual. Karyanya tidak hanya bernilai sastra tinggi, tetapi juga menjadi sarana dakwah dan penguatan cinta kepada Rasulullah SAW.

Biografi Sultan Al-‘Adil Saifuddin (596–615 H / 1200–1218 M)

 Tugas Kenzie Anjana M

Biografi Sultan Al-‘Adil Saifuddin (596–615 H / 1200–1218 M)

Sultan Al-‘Adil Saifuddin Abu Bakar bin Ayyub adalah adik kandung Salahuddin Al-Ayyubi. Ia lahir di Tikrit sekitar tahun 1145 M, dari keluarga yang saleh dan memiliki jiwa kepemimpinan kuat.

Sejak muda, Al-‘Adil dikenal sebagai pribadi yang cerdas, bijaksana, dan setia kepada kakaknya. Dalam berbagai ekspedisi militer, ia sering mendampingi Salahuddin dan memainkan peran penting, baik di medan pertempuran maupun dalam urusan diplomasi. Ia menjadi salah satu pilar utama keberhasilan Dinasti Ayyubiyah, baik pada masa awal berdiri maupun setelah wafatnya Salahuddin.

Selama pemerintahan Salahuddin, Al-‘Adil sering diberi tanggung jawab besar untuk memimpin pasukan di wilayah Mesir dan Syam (Suriah). Ia dikenal tegas namun tetap bijaksana, serta sangat ahli dalam menyusun strategi politik dan militer.

Selain kemampuan militernya, Al-‘Adil juga memiliki keahlian diplomasi yang tinggi. Setelah wafatnya Salahuddin pada tahun 1193 M, Daulah Ayyubiyah mengalami konflik internal di antara para pewarisnya, seperti Al-Afdhal di Damaskus dan Al-Aziz di Mesir. Dalam situasi ini, Al-‘Adil tampil sebagai penengah dan berusaha menjaga persatuan keluarga Ayyubiyah.

Namun, ketika upaya damai tidak berhasil sepenuhnya, Al-‘Adil mengambil langkah tegas. Ia berhasil menyatukan kembali wilayah Mesir, Suriah, dan Hijaz di bawah kepemimpinannya, dan secara resmi naik takhta sebagai sultan pada tahun 1200 M (596 H).

Pada masa pemerintahannya, ia juga menghadapi ancaman dari pasukan Eropa dalam lanjutan Perang Salib. Dengan strategi yang hati-hati dan pendekatan diplomasi, ia mampu menjaga stabilitas wilayah kekuasaan Islam.

Perjalanan dan Prestasi Penting

Beberapa peran dan prestasi Al-‘Adil antara lain:

  1. Pada tahun 1168–1169 M, mengikuti pamannya, Syirkuh, dalam ekspedisi militer ke Mesir.
  2. Tahun 1174 M, membantu mengelola Mesir atas nama Salahuddin, sementara Salahuddin memusatkan pemerintahan di Damaskus.
  3. Tahun 1169 M, berhasil memadamkan pemberontakan kaum Kristen Koptik di Qift, Mesir.
  4. Pada periode akhir abad ke-12, kembali ke Mesir untuk menghadapi pasukan Salib.
  5. Sekitar tahun 1192–1193 M, menjabat sebagai gubernur di wilayah Mesir bagian utara.
  6. Tahun 1193 M, menghadapi pemberontakan di Mosul.
  7. Pernah menjabat sebagai gubernur di wilayah Suriah, termasuk Damaskus.
  8. Menjadi Sultan Ayyubiyah dan berhasil mempersatukan kembali wilayah-wilayah yang terpecah.

Akhir Hayat dan Warisan

Sultan Al-‘Adil wafat pada tahun 615 H / 1218 M di Damaskus, setelah memimpin selama hampir 18 tahun dengan penuh kebijaksanaan. Ia kemudian digantikan oleh putranya, Al-Kamil Muhammad, yang melanjutkan pemerintahan Dinasti Ayyubiyah.

Sultan Al-‘Adil dikenang sebagai pemimpin yang bijak dan dermawan, penegak keadilan, serta tokoh pemersatu umat Islam. Ia juga dikenal sebagai pemimpin yang mengutamakan stabilitas dan perdamaian dibandingkan konflik berkepanjangan, tanpa mengabaikan kekuatan militer negaranya.

Biografi - Ibn Al-‘Adhim – Sejarawan Masyhur Masa Daulah Ayyubiyah


 

Tugas M. Ihbal 

Ibn Al-‘Adhim – Sejarawan Masyhur Masa Daulah Ayyubiyah

Nama lengkapnya adalah Kamaluddin Abu Al-Qasim ‘Umar bin Ahmad bin Hibatullah bin Al-‘Adhim, atau lebih dikenal dengan sebutan Ibn Al-Adhim. Ia lahir di Aleppo (Halab), Suriah, pada tahun 588 H / 1192 M, dan wafat pada tahun 660 H / 1262 M.

Ibn Al-‘Adhim hidup pada masa pemerintahan Dinasti Ayyubiyah, ketika Aleppo menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam yang sangat maju. Sejak muda, ia dikenal sebagai ulama, sejarawan, ahli hadis, serta penulis yang sangat produktif.

Ia tumbuh dalam keluarga terpelajar. Ayahnya adalah seorang qadhi (hakim) sekaligus ahli ilmu agama di Aleppo. Lingkungan keluarga ini membuatnya sejak kecil mencintai ilmu dan gemar membaca berbagai kitab sejarah, hadis, serta biografi para ulama.

Dalam menuntut ilmu, Ibn Al-‘Adhim melakukan perjalanan ke berbagai kota besar seperti Damaskus dan Baghdad. Ia berguru kepada banyak ulama terkemuka. Selain menguasai ilmu sejarah, ia juga mendalami:

  • Ilmu hadis dan rijal (biografi perawi hadis)
  • Ilmu fikih
  • Bahasa dan sastra Arab
  • Ilmu politik dan pemerintahan

Pada masa pemerintahan Al-Malik An-Nasir Yusuf, Ibn Al-‘Adhim dipercaya menjadi penasihat dan juru tulis resmi (katib) di istana Aleppo. Ia juga sering diutus sebagai diplomat untuk menjalin hubungan dengan berbagai wilayah Islam lainnya, bahkan hingga berhubungan dengan kekuatan Mongol pada masa menjelang invasi mereka.

Sebagai seorang sejarawan, Ibn Al-‘Adhim memiliki peran penting dalam mencatat berbagai peristiwa besar pada masa Ayyubiyah, termasuk kondisi dunia Islam menjelang Invasi Mongol ke dunia Islam. Catatan-catatannya menjadi sumber sejarah yang sangat berharga karena memberikan gambaran langsung tentang kehidupan politik, sosial, dan budaya umat Islam pada masa itu.

Salah satu karya terkenalnya adalah Bughyat al-Talab fi Tarikh Halab, yaitu kitab sejarah besar yang membahas kota Aleppo beserta tokoh-tokohnya secara rinci. Karya ini hingga kini menjadi rujukan penting bagi para sejarawan dalam memahami sejarah kawasan Suriah dan dunia Islam abad pertengahan.

Ibn Al-‘Adhim juga dikenal sebagai penulis yang objektif dan teliti dalam menyusun sejarah. Ia tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga menuliskan biografi tokoh-tokoh penting, sehingga karyanya kaya akan informasi dan analisis.

Biografi - Sultan Al-Kamil Muhammad (1218–1238 M)

 

Tugas Khusnul Khotimah

Sultan Al-Kamil Muhammad (1218–1238 M)

Biografi Sultan Al-Kamil Muhammad

Sultan Al-Kamil Muhammad bin Al-Adil Abu Bakar bin Ayyub adalah putra dari Sultan Al-Adil Saifuddin dan keponakan dari Salahuddin Al-Ayyubi. Ia lahir di Kairo, Mesir, sekitar akhir abad ke-12 M dan tumbuh dalam lingkungan istana yang sarat dengan nilai keagamaan, ilmu pengetahuan, serta strategi pemerintahan.



Sejak muda, Al-Kamil telah dididik dalam ilmu agama, politik, dan militer, mengikuti jejak ayah dan pamannya yang dikenal sebagai pemimpin besar. Ia tumbuh menjadi sosok yang cerdas, tekun, berakhlak mulia, dan berpandangan luas.

Ketika ayahnya, Sultan Al-Adil Saifuddin, wafat pada tahun 615 H / 1218 M, Al-Kamil naik takhta dan menjadi Sultan Dinasti Ayyubiyah di Mesir. Masa awal pemerintahannya tidaklah mudah. Ia harus menghadapi tantangan besar berupa serangan Perang Salib Kelima yang menargetkan wilayah Mesir, terutama kota penting Damietta (Dumyath).

Dalam menghadapi serangan tersebut, Al-Kamil menunjukkan kecerdasan strategi dan kesabaran. Meskipun sempat kehilangan Damietta, ia berhasil merebut kembali kota tersebut melalui taktik militer dan diplomasi yang efektif.

Selain ancaman eksternal, Al-Kamil juga menghadapi konflik internal di antara keluarga Ayyubiyah, khususnya dengan saudara-saudaranya yang menguasai wilayah Suriah. Namun, dengan kebijakan yang bijak dan diplomasi yang hati-hati, ia mampu menjaga stabilitas kekuasaan.

Salah satu peristiwa penting pada masa pemerintahannya adalah perjanjian damai dengan Kaisar Frederick II dalam rangka Perang Salib Keenam. Dalam perjanjian tersebut, Al-Kamil menyerahkan Yerusalem kepada pihak Kristen secara damai, tetapi tetap mempertahankan kontrol atas tempat-tempat suci Islam. Kebijakan ini menunjukkan pendekatan diplomasi yang lebih mengutamakan perdamaian daripada konflik berkepanjangan.

Sultan Al-Kamil wafat pada tahun 1238 M (635 H) setelah memerintah selama sekitar 20 tahun. Ia dimakamkan di Kairo dan digantikan oleh putranya, Al-Adil II.

Setelah wafatnya Al-Kamil, Dinasti Ayyubiyah mulai mengalami kemunduran akibat konflik internal dan munculnya kekuatan baru, yaitu kaum Mamluk, yang kemudian mengambil alih kekuasaan di Mesir.

Senin, 12 Januari 2026

PELESTARIAN TRADISI, KEARIFAN LOKASI, DAN BUDAYA NASIONAL

 MATERI PKN   TUGAS :  KHUSNUL KELAS VIII


PELESTARIAN TRADISI ,KEARIFAN LOKASI ,DAN BUDAYA NASIONAL  



Tradisi dan kearifan lokal merupakan bagian penting dari kekayaan budaya bangsa yang diwariskan secara turun-temurun. Pernahkah kalian bermain cublak-cublak suweng, congklak, atau bernyanyi macapat saat kecil? 

Permainan dan seni tradisional seperti ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga mengandung nilai-nilai sosial dan pendidikan yang membentuk karakter serta mempererat hubungan antaranggota masyarakat. Melalui tradisi dan kearifan lokal, kita belajar tentang cara hidup yang harmonis dan bijaksana sesuai dengan budaya setempat.

Budaya merupakan suatu istilah yang secara bahasa berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi, yang berarti hal-hal yang berhubungan dengan akal budi manusia. Secara sederhana, budaya dapat diartikan sebagai hasil kreasi akal budi manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Setiap daerah memiliki budaya yang berbeda-beda. Budaya tersebut kemudian diwariskan menjadi tradisi secara turun-temurun. Oleh karena itu, budaya merupakan warisan berharga dari nenek moyang kita yang harus dijaga, karena budaya daerah merupakan sumber dari budaya nasional.


Pelestari Budaya dalam Keluarga

Tugas PKn. Ihbal Kelas VIII

Pelestari Budaya dalam Keluarga

a. Penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari

Penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari sangat penting sebagai

sarana komunikasi antarwarga di suatu daerah sekaligus sebagai upaya melestarikan warisan budaya leluhur.


b. Memperhatikan dan mempelajari budaya daerah

Upaya melestarikan budaya daerah juga melibatkan pemahaman dan pembelajaran

terhadap tarian, alat musik, pakaian adat, serta adat istiadat daerah sekitar. Hal tersebut merupakan langkah penting dalam upaya mempertahankan keragaman budaya yang bisa dilakukan dalam lingkungan keluarga.

c. Mengadakan dan turut serta berpartisipasi dalam kegiatan lomba atau pentas seni di daerah sekitar

Mengadakan dan turut serta berpartisipasi dalam kegiatan lomba atau pentas seni

di daerah sekitar merupakan salah satu cara efektif untuk melestarikan dan mengenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas.

d. Mempelajari budaya nasional

Mengetahui dan memahami unsur-unsur yang termasuk dalam budaya nasional, 

serta menyaksikan pertunjukan budaya daerah, menjadi langkah penting untuk melestarikan kekayaan budaya. Hal demikian sangat mungkin dilakukan mulai dari lingkungan keluarga seperti menghadiri acara-acara budaya atau kesenian.


Manfaat Pelestarian Budaya Nasional

 Materi PKN Tugas N

c. Manfaat Pelestarian Budaya Nasional

Berikut adalah beberapa manfaat utama dari pelestarian budaya nasional:


1) Memperkuat jati diri dan identitas bangsa

 Budaya mencerminkan karakter dan keunikan suatu bangsa yang membedakannya dari bangsa lain.

2) Menumbuhkan rasa cinta bangga terhadap tanah air

Masyarakat, khususnya generasi muda, akan lebih menghargai warisan leluhur dan memiliki kebanggan dan menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

3) Menjaga keberagaman dan mempererat persatuan

Pelestarian udaya membantu menjaga keharmonisan dalam keberagaman suku, adat, dan tradisi Indonesia.

4) Menjadi sumber pndidikan karakter 

Nilai-nilai budaya lokal mengajaran tentang etika, moral, gotong royong, dan toleransi.

5) Mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan pariwisata

Budaya dapat dimanfaatkan sebagai aset untuk menaik pariwisata serta mengembangkan prodik-produk berbasis tradisi

6) Melestrikan pengetahuan dan kearifan lokal

Ilmu praktik dan tradisional seperti pengobatan herbal, pertanian lokal, dan kerajinan tagan tetap terjaga dan bermafaat.

7) Meningkatkan posisi Indonesia di dunia Internaisonal

Budaya nasional yang kuat dan dikenal luas dapat menjadi alat diplmoasi budaya yang memperkuat hubungan antarbangsa


Sabtu, 22 November 2025

Khalifah Abdullah Al-Makmum

Tugas Latif Al Mastury Kelas 8 

Khalifah Abdullah Al-Makmum

Abdullah ibnu harun ar-rasyid lebih dikenal dengan dengan panggilan Al-ma mun, dilahirkan pada tanggal 15 rabi’ul awal 170 H/786 M, bertepatan dengan wafat kakeknya musa al-hadi dan pengangkatan ayahnya Bernama murajil dan meninggal setelah melahirkan.

Untuk mendalami hadist al-makmun dan Al-Amin di kirim ayah nya harun ar-rasyid kepada Imam Malik di Madinah Al-makmun dan saudaranya belajar kitab A-muwat hakarangan Imam Malik.

Enam tahun diawal pemerintahannya al makmun tidak langsung duduk di kursi Kekhalifah tetapi beliau belajar ke merw. Urusan pemerintah diserahkan kepada Fazal bin sahal.

Urusan pemerintahan di serah kan kepada fazal bin sahal Sebagaimana ayahnya khalifah harun AR-rasyid almakmun adalah khalifah Daulah bani abasiyah yang besar dan menonjol.la memiliki sifat-sifat yang agung diantaranya tekadnya kuat penuh kesabaran menguasai berbagai toleransi.

 


A.   Bidang pertanian dan perdagangan

Dengan keamanan terjamin kegiatan pertanian pertanian berkembang dengan pesat. Pertanian dikembangkan dengan luas. Buah-buahan dan bunga-bungaan dari parsia makin Meningkat dan terjamin mutunya.

B.   Bidang Pendidikan

Al-makmun mengenbangkan perpustakaan Baitul Al-hikmah yang didirikan sang ayah. Khalifah harun ar-rasyid menjadi pusat ilmu pengetauan yang berhasil melahiran sederet imuwan muslim yang melegenda.

C.    Perluasan daerah islam dan penertiban Administrasi negara

Di era kekhalifahan Al-makmun Daulah abbasiyah menjelma menjadi negara adikuasa yang sangat disegani. Wilayah kekuasaan dunia islam terbentang luas mulai dari Pantai atlantik di barat hingga tembok besar cina di timur. 

Sejarah Berdirinya Daulah Abbasiyah

 Tugas : Fahra Kelas 8

Sejarah Berdirinya Daulah Abbasiyah

           Sejarah terbentuknya Daulah Abbasiyah tidak dapat terlepas  dari perjalanan sejarah Daulah Umayyah.Pada awal terbentuknya, Daulah Umayyah mengalami massa kejayaan. Beragam prestasi mampu dicapai pemerintah Daulah Umayyah, keadaan ini berlangsung hingga massa pemerintah khalifah al Walid bin Abdul Malik.Setelah itu, kemunduran Daulah Umayyah makin tampak. Sepeningal khalifah Hisyam bin Abdul Malik, kemunduran itu makin tampak. Kekacauan terjadi di mana-mana, pertikaian internal keluarga tak terhindarkan.


1.Faktor Pendukung Terbentuknya Daulah Abbasiya

        a. Perprcahan internal keluarga Daulah Umayyah dan kekisruhan politik di dalam negri. 

                b. Munculnya gerakan perlawanan terhadap pemerintah Daulah Umayyah yang di lakukan            

        oleh: kelompok Mawali, kelompok dahaq bin qaisn  asy – syaibani, dan kelompok syiah yang menilai tampuk kekuasaan khalifah adalah hak keturunan ali bin abi thalib  dan ingin menuntut balas atas terbunuhnya husin bon ali di karbala.

                c.perpecahan kelompok suku arab utara dan arab selatan.

                d.kekecewaan  ulama dan tokoh agama kepada khalifah marwan bin mhummad yg di nilai tdk memiliki sikap negarawan yang baik.

                e. wafatnya khalifah marwan bin mhummad (khalifah terkhir daulah umayyah)setelah kalah dalam pertempuran di tepi sungai zab,irak di tahun 132 H/750 M.

      2.Tokoh-Tokoh yang Berperan dalam Pembentukan Daulah Abbasiya

      a.Langkah-langkah Bani Abbas untuk Mendirikan Daulah Abbasiyah 

                1) Membentuk gerakan bawah tanah (gerakan da’wah ), engan tokoh – tokohnya antara   lain:a) muhammad Al-Abas, b) Ibrahim Al- imam, c) Abu Muslim Al-Khurasani

                2) Menerapkan politik bersahabat artinya keturunan Abass, tidak memperhatikan sikap bermusuhan dengan Bani Umayyah

                3) Dalam gerakan tidak mengunakan nama Bani Abbas, tetapi mengunakan nama Bani Hasyim. Pengguna nama itu bertujuan agar pendukung Ali bin Abi Thalib akan tetap mendukungnya, karena mereka bersama-sama keturunan dari Bani Hasyim

                4) Menetapkan tiga kot sebagai pusak gerakan politik, ketia kota itu adalah al humaymnah sebagai pusat perencanaan dan organisasi, kufah sebagai kota penghubung. Dan khurasani sebagai pusat gerakan praktis (gerakan bawah tanah) yang di pimpin oleh abu muslim al-khurasani.

b) Silsilah Bani Abbasiyah

                Dalam silsilah Bani Abbasiyah terdapat tiga keluarga besar yang ingin merebut kekuasaan . keluarga tersebut adalah sebagai berikut:

1)      Keluarga Ali bin Abi Talib (golongan syiah)

2)      Keluarga umayyah

3)      Kelurga abbas

Khalifah Harun Ar-Rasyid (768-809)

Tuagas Ihbal Kelas 8 


Khalifah Harun Ar-Rasyid (768-809)

Khalifah Harun Ar-Rasyid ( 145-193 H/763-809 M)  dilahirkan di Rayb pada bulan Pebruari 763 M/145 H. Ayahnya bernama Al-Mahdi dan ibunya bernama Khaizurran. Ia dibesarkan di lingkungan istana mendapat bimbingan ilmu-ilmu agama dan ilmu pemerintahan di bawah bimbingan seorang guru yang terkenal, Yahya bin Khalid Al-Barmaki, seorang ulama besar di zamannya, dan ketika Ar-Rasyid menjadi khalifah, menjadi Perdana mentrinya, sehingga banyak nasihat dan anjuran kebaikan menggalir dari Yahya.


Harun Ar-Rasyid menjukkan kecakapannya dalam memimpin, sehingga pada tahun 165 H, Al-Mahdi melantiknya kembali menjadi gubernur untuk kedua kalinya di Saifah.

Harun Ar-Rasyid diangkat menjadi khalifah pada September 786 M. Pada usianya yang sangat muda, yakni 23 tahun. Jabatan khalifah itu dipegangnya setelah saudaranya yang menjabat khalifah, Musa Al-Hadi wafat.

Kepribadian Harun Ar-Rasyid sangat mulia. Sikapnya tegas, mampu mengendalikan diri, tidak emosional, sangat peka perasaannya dan toleran. Akhlak mulianya akemukakan oleh Abdul Athahiyah, seorang penyair kenamaan saat itu. Selain itu, haru Ar-Rasyid juga dikenal sebagai khali8fah yang suka humor. Dia juga terkenal pemimpin yang pemurah dan dermawan.

Banyak sejarawan menyamakannya dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Daulah Umayyah. Tah jarang ia juga turun ke jalan-jalan di kota Baghadad pada malam hari melihat kehidupan sosial yang sebenarnya pada masyarakatnya, sehingga tak seorang pun yang kelaparan dan teraniaya tanpa diketahui oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Bahasa Arab menjadi bahasa resmi dan bahasa pengantar di madrasah-madrasah, perguruan tinggi, dan bahkan menjadi alat komunikasi umum. Karena itu, dianggap tepat bila semua pengetahuan yang termuat dalam bahasa asing itu segera diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, sehinga bisa dikaji dan difahami masyarakat luas. Dewan penerjemah dibentuk diketuai oleh seorang pakar bernama Yuhana bin Musawih.

Kota Baghadad menjadi mercusuar kota impian 1.001 malam yang tidak ada tandingnya di dunia pada abat pertengahan, hal ini melegenda dalam kisah Alfu lailah wal Lailah. Selain itu pada masa kekhalifahhanya wilayah kekuasaan Daulah Abbasyiah membentang dari Afrika Utara sampai ke Hindukush, India. Kekuatan militer yang dimilikinya juga sangat luar biasa.

 Pada masa Khalifah Harun AR-Rasyid, hidup seorang cerdik pandai yang sering memberikan nasuhat-nasihat kebaikan dari Abu Nawas disertai dengan gayanya yang lucu, menjadi bagian tak terpisahkan dari Kehidupan Khalifah Harun Ar-Rasyid.

  Pada masa pemerintahannya Daulah Bani Abbasyiah mengalami masa kejayaan dan keemasa sekaligus menjadi salah satu pusat peradaban dunia atau seiring disebut Golden age of Islam.

Pembangunan fisik pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid diantaranya:

a.       Memperindah kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan

b.      Membangun sistim irigasi bertehnologi tinggi

c.       Memperluas areal pertanian

d.      Mendirikan gedung peneropong bintang

e.      Membangun mata air Zubaidah ( diambil dari nama Istri Harun Ar-Rasyid) yaitu terusan air yang dialirkan ke Mekah untuk kepentingan jamaah haji.

f.        Membangun sarana umum rumah sakit, pasar-pasar dan jalan raya

Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur [136 – 158 H/754 – 775 M]

Tugas : Maulida Khoirun Nisa'  Kelas 8


Khalifah-Khalifah Besar Daulah Abbasiyah

1.    Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur [136 – 158 H/754 – 775 M]

a)   Biografi Singkat Abu Ja’far Al-Mansur

Abu Ja’far Abdullah bin Muhammad Al-Mansur adalah khalifah kedua Daulah Abasiyah, putra Muhammad bin Ali bin Abdullah ibn Abbas bin Abdul Muthalib, dilahirkan di Hamimah pada tahun 101 H. Ibunya bernama Salamah Al-Barbariyah, adalah wanita dari suku Barbar. Al Mansur memiliki kepribadian kuat, tegas, berani, cerdas dan otak cemerlang.

Ia dinobatkan sebagai putra mahkota oleh kakaknya, Abdul Abbas As-Saffah. Selanjutnya, ketika As-Saffah meninggal, Al-Mansur dilantik menjadi kalifah, saat usianya 36 tahun.

Al-Mansur seorang Khalifah yang tegas, bijaksan, alim, berpikiran maju, baik budi dan pemberani. Ia tampil dengan gagah berani dan cerdik menyelesaikan berbagai persoalan yang tengah melanda pemerintahan Daulah Abbasiyah. Al-Mansur juga sangat mencintai ilmu pengetahuan. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan menjadi pilar bagi pengembangan peradaban Islam di masanya.

Setelah menjalankan emerintahan selama 22 tahun lebih, pada tanggal 7 Dzulhijja tahun 158 H/775M, Al-Mansur wafat dalam perjalanan ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, di suatu tempat bernama ‘Bikru Maunah’ dalam usia 57 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Makkah.

b)   Kebijakan Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur dalam Pemerintahan

Setelah dilantik enjadi khalifah pada 136 H/754 M, Al-Mansur membenahi adminidtrasi pemerintahan dan kebijakan politik. Dia menjadi Wazir sebagai koordinator departemen. Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balk, Persia. Al-Mansur juga membentuk lembaga protokoler negara, sekertaris negara dan kepolisian negara disamping membenari angkatan bersenjata.

Dia menunjuk Muhammad ibnu Abbdul Al-Rahman sebagai pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa Daulh Umayyah diingkatkan peranannya untuk menghimpun seluruh informasi dari daerah-daerah, sehingga administrasi kenegaraan berjala dengan lancar sekalius menjadi pusat informasi khalifah untuk mengontrol gubernurnya.

Untuk memperluas jaringan politik, Al-Mansur menaklukkan kembali daerah-daerah yang mepaskan diri, dan menerbitkan keamanan didaerah perbatasan. Diantara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Cappadocia, dan Cilicia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosporus.

Al-Mansur yang mnghadapi pemberontakan dari pamannya sendiri yaitu Abdullah bin Ali, beliau menjadi gubernur di Suriah pada pemerintahan Abu Abbas as-Saffah. Saat menjabat sebagai khalifah, Abu Abas as-Saffah pernah menjanjikan jabatan khalifah kepada Abdullah bin Ali. Diangkatnya Al-Mansur menjadi khalifah memuat Abdullah bin Ali kecewa dan marah. Abdullah bin Ali merasa bahwa dirinya berjasa karena berhasil mengalahkan Marwan II dalam pertempuran di Zab Hulu. Abdullah bin Ali kemudian mengorbankan pemberontakan walaupun akhirnya berhasil dipadamkan oleh Abu Ja’far Al-Mansur.

Pengertian dan tujuan terbentuknya khulafaurasyidin

TUGAS :  ILMI FANATIK - KELAS 8


 1.       Pengertian khulafarasyidin

Khulafaurasyidin merupakan jabatan yang di pegang oleh empat sahabat Nabi muhammad Saw. yang posisinya untuk menggantikan kedudukan Beliau dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin negara dan  pemimpin agama setelah beliau wafat. Sebab tugas Nabi Muhammad  Saw sebagai pembawa risalah tidak dapat digantikan oleh siapapun. Karena Nabi muhammad saw. Adalah rasul terakhir.

Ilustrasi Khulafaur Rasyidin


Menurut bahasa khulafurasyidin berasal dari kata khulafa  dan Ar-rasyidin. Kata khulafa merupakan jamak dari kata khalifa yang artinya pengganti sedangkan yang di tunjuk sebagai pengganti Nabi Muhammad Saw (dalam  Memimpin umat) yang selalu mendapat  petunjuk dari Allah. Penamaaan Khulafaurasyidin berdasar pada hadis yang mengatakan bahwa islam akan  terpecah menjadi tujuh  tujuh puluh tiga golongan , Jadi  yang mengikuti sunnahku dan para sahabatku. Jadi yang mengikuti  sunah Nabi muhammad Saw dan para sahabat yang mendapat petunjuk. Allah swt. Dengan demikian khuulafaurasyidin  merupakan orang orang yang ditunjuk untuk  menggatikan kedudukan nabi muhammad saw. Sebagai pemimpin umat setelah rasullah saw. Wafat. Khulafaurasyidin terdiri dari 4 orang yaitu Abu bakar asyidiq (632-644) Umar bin khatab (634-644M) Usamn bin affan (644-656M)dan Ali bin abi thalib (656-661M) keempat Khalifa tersebut dipilih bukan  berdasarkan Keturunanya kesepakatan bersama umat islam.

2.       Tugas pokok khulafaurasidin

Khulafaurasidin merupakan para pengganti dan pengurs kepimpnan islam

Setelah wafatnya nabi muhammad saw. Masa khulafaurasidin termasuk generasi terbaik setelah nabi muhammad saw. Para khulafaurrasidin yg terplih.

Tersebut memiliki tugas sebagai berikut:

a.    Melanjutkan dakwah islam dan ajaran nabi muhammad saw. Kepada umat islam maupun  orang-orang yang belum masuk islam

b.    Membina mengatur dan menggarahkan umat islam dengan berpedoman kepada dua sumber hukum islam yakni Al-Quran dan Hadis

c.     Memerangi kaum murtad yang merusak ajaran agama islam Memperluas wilayah kekuasaan islam dengan tujuaan untuk dakwah islam

Pusat Pemerintah Daulah Abbasiyah

Tugas : Kezie Anzana Mumtaas

Pusat Pemerintah Daulah Abbasiyah

Kota Kuffah

Kuffah merupakan ibukota pertama dari pemerintahan kekhalifahan Daulah Abbasiuyah. Di Kota ini Daulah Abbasiyah diproklamirkan. Di Kuffah inilah Abdul Abbas membangun istana yang terkenal dengan nama “Istana Hasyimiyah 1”.

Ilustrasi kehidupan pada masa dinasti Abbasiyah (Foto: Sketsa 1001 Invention)



Kota Hirah

Kota Hirah transit, artinya bukan merupakan tempat menetap bagi Daulah Abbasiyah itu, karena perpindahan ke kota ini sementara agar mereka dapat segera meninggalkan Kuffah.

3.   Kota Anbar

Kota ini sudah di bangun oleh raja persi sebelumnya. Pemerintah Daulah Abbasiyah Ketika di bawah kekuasaan Abdul Abbas As Shaffah memperbarui kota tersebut kemudian diberi nama Hasyimiyah II. Abdul Abbas tinggal di istana ini sampai wafatnya.

4.   Kota Baghdad

Dasar pertimbangan memilih kota Baghdad sebagai ibu kota pemerintahan Daulah Abbasiyah adalah sebagai berikut:

a.    Adanya pemberontakan oleh Bani Rawaudiyah, yaitu para pengikut setia Abu Muslim Al-Khurasani. Kelompok ini menuntut balas kematian Abu Muslim Al-Khurasani yang dihukum mati.

b.   Bagdad merupakan tempat yang berudara segar dengan keindahan kotanya.

c.    Tempat ini strategis sehingga mudah untuk saling komunikasi dengan bangsa lain.

d.   Banyak terdapat bahan tambang dan sumber alam lainnya untuk keperluan hidup bagi Khalifah, petinggi pemerintahan, dan seluruh warga masyarakat.

Keruntuhan Daulah Abbasiyah

Ada dua faktor penyebab keruntuha Daulah Abbasiyah, faktor internal dan faktor eksternal.

1.     Faktor Internal

Faktor internal lebih banyak berperan sebagai penebab kehancuran Daulah Abbasiyah diantaranya:

a.      Hubbud Dunya (kecintaan yang berlebihan terhada kemewahan dunia).

b.     Konflik keluarga Daulah Abbasiyah yang berujung pada perebutan kekuasaan.

c.      Meningkatnya konflik keagamaan.

d.     Melemahnya jiwa patriotism dan Nasionalisme

2.     Faktor Eksternal

Penyerangan tentara Mongol atas Baghdad (ibu kota Daulah Abbasiyah) yang dipimpin oleh Hulagu Khan pada 12258 M, saat itu Daulah Abbasiyah dipimpin oleh Al-Mu’tashim Billah. Setelah kota Baghdad hancur dan khalifah Daulah Abbasiyah terbunuh, berakhirlah kekuasaan Daulah Abbasiyah. Untuk pertama kalinnya dalam sejarah, dunia muslim tanpa khalifah yang Namanya biasa disebut-sebut dalam sholat Jum’at.

a.      Banyak muncul pemberontakan.

b.     Dominasi bangsa Turki dan bangsa Persia


Selasa, 29 Maret 2022

B. AKTIVTAS PEMBELAJARAN VARIASI DAN KOMBINASI SERANGAN BELADIRI PENCAK SILAT

 B. AKTIVTAS PEMBELAJARAN  VARIASI DAN KOMBINASI SERANGAN BELADIRI PENCAK SILAT

1.Aktivitas Pembelajaran Menggoyahkan Pertahanan Lawan

      Lakukan latihan secara berpasangan,berdiri saling berhadapan dengan jarak satu lengan dan bersiap dengan sikap pasang.Cara melakukannya sebagai berikut.

a. Siswa A mengalihkan perhatian dengan cara mengarahkan dua jari kearah mata siswa B

b. Saat perhatian siawa B teralihkan dan berusaha mengelak,siawa A melakukan serang dengan pukulan siku pada bagian ulu hatinya dan disusul dengan tendangan samping.Ingat,ini hanya latihan dan kalian tidak diperbolehkan untuk menyakiti teman.

c.Lakukan secara bergantian dan berulang-ulang.



2.Aktivitas Pembelajaran Melakukan Serangan Pendahuluan 

Lakukan latihan secara berpasangan,berdiri saling berhadapan dengan jarak satu lengan dan bersiap dengan sikap pasang.Cara melakukannya sebagai berikut.

a. Siswa A melakukan pukulan,siawa B menahan pukulan tersebut dengan gerak tangkisan dalam/luar/bawah/atas.

b. Siswa B melakukan pukulan,siswa A menahan pukulan tersebut dengan gerak tangkisan dalam/luar/bawah/atas.

c. Lakukan secara berulang-ulang agar kalian segera menguasai keterampilan gerak pukulan dan tangkisan.



3. Aktivitas Pembelajaran Mengelak Dari Pukulan

Lakukan latihan secara berpasangan,berdiri saling berhadapan dengan jarak satu lengan dan bersiap dengan sikap pasang.Cara melakukannya sebagai berikut.

a. Siswa A melakukan pukulan,siawa B menghindari pukulan tersebut dengan gerak elakan bawah/atas/samping/lurus.

b.Siswa B melakukan pukulan,siswa A menghindari pukulan tersebut dengan gerak elakan bawah/atas/samping/lurus.

c. Lakukan secara berulang-ulang agar kalian segera menguasai keterampilan gerak pukulan dan elakan.

4. Aktivitas Pembelajaran Mengelak Dari Tendangan Lawan

Lakukan latihan secara berpasangan,berdiri saling berhadapan dengan jarak satu lengan dan bersiap dengan sikap pasang.Cara melakukannya sebagai berikut.

a. Siswa A melakukan tendangan,siawa B menghindari tendangan tersebut dengan gerak elakan bawah/atas/samping/lurus.

b. Siswa B melakukan tendangan,siswa A menghindari tendangan tersebut dengan gerak elakan bawah/atas/samping/lurus.

c. Lakukan secara berulang-ulang agar kalian segera menguasai keterampilan gerak tendangan dan elakan.

 


5. Aktivitas Pembelajaran Menangkis Dari Tendangan Lawan

Lakukan latihan secara berpasangan,berdiri saling berhadapan dengan jarak satu lengan dan bersiap dengan sikap pasang.Cara melakukannya sebagai berikut.

a. Siswa A melakukan tendangan,siswa B menahan tendangan tersebut dengan gerak tangkisan dalam/luar/bawah/atas.

b. Siswa B melakukan tendangan,siswa A menahan tendangan tersebut dengan gerak tangkisan dalam/luar/bawah/atas.

c. Lakukan secara berulang-ulang agar kalian segera menguasai keterampilan gerak tendangan dan tangkisan.

 



Pembelajaran Atlentik Melalui Lompat Jauh

 

1.       PEMBELAJARAN ATLENTIK MELALUI LOMPAT JAUH

a.       Aktivitas Pembelajaran Gerak Spesifik Lompat Jauh

Berikut Aktivitas gerak spesifik lompat jauh

1)Aktivitas pembelajaran gerak spesifik awalan atau ancang-ancang (approach-run)

Berikut cara melakukan awalan lompat jauh.

a)      Lari secepat-cepatnya dari permulaan tempat berdiri (tempat/tanda pada waktu akan melakukan awalan) ke papan  tolakan sampai tempa pada papan tolakan di ukur jaraknya. Awalan di lakukan dengan jarak antara 30-40 m.

b)      Lari perlahan-lahan kemudian agak cepat, setelah kira-kira 10 m dari balok tumpu lari dengan kecepatan maksimal.

c)       Langkah lari cepat

 





2) Aktivitas Pembelajaran Gerak Spesifik tumpuan/tolakan (take-off)

Berikut beberapa hal yang perlu di perhatikanpada saat melakukan tolakan.

a)      Tolakan dilakukan dengan kaki yang kuat. Bagian telapak kaki yang kuat untuk  bertumpu adalah cenderung pada bagian tumit terlebih dahulu dan berakhir pada bagian ujung kaki

b)      Sesaat akan bertunpu sikap badan agak condong ke belakang

c)       Bertumpu sebaiknya tepat pada papan tumpuan

d)      Saat bertumpu,kedua lengan ikut di ayun kan ke depan atas

e)      Pada kaki ayun di angkjat kedepan setinggi pinggul dalam posisi lutut di



3) Aktivitas Pembelajaran Gerak Spesifik melayang di udara

Cara melakukan aktivitas ini,yaitu sebagai berikut.

a)      Setelah kaki dilepas dari tolakan kemudian melayang diudara dengan 2,5 langkah  dengan menendang kaki kanan ke depan.

b)      Langkah pertama,berakhir dengan kaki ayun berada didepan  dan kaki penolak sesaat lepas dari tanah.

c)       Langkah kedua,berakhir dengan kaki tolak berada didepan.

d)      Setengah langkah terakhir, kaki ayun bergabung dengan kaki tolak.

e)      Dengan kedua lengan di ayun dari belakang ke depan untuk melakukan imbangan sikap berjalan.



4)  Aktivitas Pembelajaran Gerak spesifik mendarat

Sikap mendarat pada lompat jauh, baik gaya jongkok,gaya menggantung,maupun gaya berjalan diudara adalah sama.Berikut bentuk aktivitasnya.

a)      Saat melakukan pendaratan kedua lutut harus ditekuk untuk mempertahankan  berat badan kedepan.

b)      Kedua kaki mendarat dibak pasir secara bersamaan,berat badan dipertahankan agar tidak jatuh kebelakang.


 

 

 


 

 

 

Dokumentasi Kegiatan Kemah